Kisah Alya adalah cerminan bahwa ketenangan sejati tidak dapat dicari di luar fitrah, melainkan di dalam iman. Sempat terlahir sebagai seorang Muslimah, Alya meninggalkan Islam untuk memeluk agama lain dan menikah. Alasan di baliknya sangat personal: ia mencari kenyamanan dan ketenangan di luar rumah karena merasa kurang mendapatkan hal tersebut dari keluarganya.
Ironisnya, kenyamanan yang ia cari tak pernah ia temukan. Selama menjalani hidup sebagai nonmuslim, ia merasa bingung dan kesulitan mencari ketenangan di saat stres atau sedih.
Ujian Terberat: Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
Pernikahan Alya berlangsung selama kurang lebih 3 tahun, dikaruniai dua orang anak. Namun, alih-alih menemukan kenyamanan, ia justru menghadapi ujian terberat: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Kekerasan Berlanjut: KDRT sudah ia alami sejak hamil anak pertama. Ia bertahan dengan alasan tidak ingin anak-anaknya mengalami perceraian seperti dirinya.
Memuncak Saat Hamil: Puncaknya, ia memutuskan untuk berpisah saat hamil anak kedua 7 bulan karena tidak kuat secara fisik dan masih mendapat pukulan serta tendangan.
Dampak pada Anak: KDRT ini tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga mengenai anaknya. Hal ini menjadi alasan utama Alya memutuskan untuk berpisah, demi menjaga mental anak-anaknya.
Baca juga:http://hidayah al-ikhlas
Setelah meninggalkan rumah tangga yang penuh kekerasan, Alya dibuang oleh keluarganya karena keputusannya meninggalkan Islam. Ia sempat berpindah-pindah, hingga akhirnya dibawa ke Mualaf Hijra Center (MHC), sebuah perjalanan yang diyakininya sebagai cara Allah mengembalikannya ke pangkuan Islam.
Kembali ke Islam dan Pertolongan yang Cepat
Alya akhirnya mengucapkan syahadat kembali. Sekali lagi, alasannya kembali pada satu hal yang ia cari sejak kecil: ketenangan.
Setelah kembali menjadi Muslimah, ia merasakan nikmat yang luar biasa, terutama dalam hal doa. Ia bercerita bahwa doanya langsung diijabah oleh Allah.. Pertolongan Allah itu nyata dan dekat:
Pemeriksaan Kehamilan: Saat hamil 7 bulan, ia khawatir dengan kondisi kandungannya dan berdoa, “Ya Allah saya mau periksa sekali aja.” Tiba-tiba, 2 hari kemudian ada pihak dari yayasan yang datang dan memfasilitasinya untuk periksa USG.
Baca Juga:http://muslimah 19 tahun jadi korban kdrt balasannya surga
Kebutuhan Bayi: Saat akan melahirkan, ia belum memiliki perlengkapan bayi. Setelah berdoa, teman-temannya datang pada hari itu juga dengan membawa baju lengkap hingga kasur bayi
Meskipun ia masih sering bertanya kepada ustaz, “Kenapa hidup saya selalu menderita?”, ia menyadari bahwa ujian adalah bentuk kedekatan Allah dengan hamba-Nya.
Pesan untuk Mereka yang Diuji
Alya kini fokus pada anak-anaknya dan berharap Allah memberinya rezeki untuk masa depan mereka. Setelah setahun tinggal di MHC, ia bersyukur atas kasih sayang yang ia dan anak-anaknya terima, termasuk figur ayah dari para pengurus MHC.
Untuk teman-teman Muslim atau mualaf yang sedang diuji, ia berpesan:
Yakinlah semua bisa dilewati. Masih ada hari esok untuk menjadi lebih baik.
Cari teman ngobrol dan solusi. Jangan menyerah dan percaya bahwa pertolongan Allah itu pasti ada.
Alya kini menjadikan rutinitas ibadah, zikir, dan doa sebagai amalan yang menguatkannya. Khususnya, ia sering membaca Ayat Kursi dan Surah Alam Nasrah (Al-Insyirah) untuk meyakinkan hati bahwa “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
