Ditolak Keluarga Hingga Ucapan “Kasih Saja Baygon”
Setiap perjalanan spiritual, terutama menjadi seorang Mualaf, dipenuhi dengan rintangan dan cobaan. Namun, kisah pasangan Fakhrul Malik (Mas Malik) dan Lina Pertiwi menunjukkan betapa ekstremnya ujian keimanan yang harus mereka hadapi, mulai dari penolakan keluarga hingga menghadapi kemiskinan dan penyakit. Lina, yang dulunya seorang Kristen Protestan yang taat dan bahkan menjabat sebagai sekretaris gereja, kini menemukan kedamaian sejati dalam Islam.
Dari Gereja ke Syahadat: Jalan yang Tidak Terduga
Lina tumbuh di tengah keluarga Kristen yang sangat protektif. Namun, benih Islam sudah ditanamkan sejak kecil. Saat SD, ia bersekolah di sekolah negeri (sebelumnya ada sebutan sekolah Islam) di mana ia diwajibkan memakai kerudung dan belajar agama Islam. Bahkan, ia diam-diam mengikuti les Al-Qur’an dari guru agamanya. Hal ini sempat memicu pertentangan hebat dari neneknya.
Jalan Lina untuk menjadi Mualaf terbuka setelah bertemu Mas Malik. Awalnya, Lina yang lebih dulu tertarik dan gigih mendekati Mas Malik, hingga akhirnya menyatakan perasaannya. Mas Malik yang saat itu sedang kecewa dengan pernikahan sebelumnya dan sempat bernazar untuk “bermain perempuan lebih kejam”, mengajukan syarat tegas: “Kamu harus belajar agama dan masuk Islam.”. Tanpa ragu, Lina menerima tantangan tersebut dan bersyahadat malam itu juga.
Pahitnya Penolakan dan Hilangnya Dukungan
Keputusan Lina menimbulkan gejolak besar dalam keluarganya. Keluarga pihak ayah Lina, yang membiayai hidupnya, secara terang-terangan menolak Mas Malik. Bahkan, pernikahan mereka harus disembunyikan dari keluarga besar pihak ayah Lina.
|Baca Juga : https://baitulmaqdis.com/2025/11/26/mukjizat-abadi-nabi-kisah-fandy-w-gunawan-memeluk-islam/
Penolakan itu kian terasa pedih ketika Lina kehilangan sosok ayah yang sangat dicintainya. Ia menyaksikan bagaimana pihak keluarga ayahnya menunjukkan ketidakpedulian yang mendalam di saat-saat terakhir ayahnya sakit. Ia bahkan menceritakan bahwa untuk mengantar ayahnya ke rumah sakit, ibunya harus diminta naik angkot, bukan diantar mobil oleh kakak ipar yang punya mobil. Pengalaman pahit tersebut, di mana harta dunia lebih diutamakan, semakin menguatkan keyakinannya bahwa dunia ini hanya sementara, dan akhirat adalah tujuan abadi.
Puncak Ujian: Penyakit, Kemiskinan, dan Kalimat “Kasih Saja Baygon”
Ujian yang sesungguhnya datang setelah mereka menikah. Mas Malik jatuh sakit parah akibat ginjal dan stroke, yang membuatnya tidak bisa berjalan dan badannya panas tinggi. Di saat bersamaan, Mas Malik kehilangan pekerjaan (PHK), menyebabkan kesulitan ekonomi parah hingga kesulitan membayar kontrakan.
Di tengah keterpurukan inilah, Lina mendengar ucapan yang paling menyakitkan dari adik iparnya sendiri—saudara kandung Mas Malik—yang menolak dimintai bantuan:
“Enggak usah dibawa ke dokter, kasih aja Baygon suruh mati. Suruh ikut sama ayahnya.”
Kalimat tersebut menggambarkan betapa terasingkannya mereka saat Mas Malik sedang diuji sakit. Namun, Lina menunjukkan kesabaran luar biasa. Ia adalah pilar penyemangat bagi suaminya, dan ia berjuang sendiri mencari bantuan, termasuk menggunakan jasa Maxim untuk membawa suaminya ke rumah sakit karena ketiadaan biaya dan bantuan keluarga.
Kekuatan Iman dan Ridha Allah
Di balik semua ujian, pasangan ini menemukan ketenangan sejati dalam Islam. Bagi Lina, Islam menawarkan kasih sayang yang tanpa batas dan tidak memandang agama, berbeda dengan pengalaman sebelumnya yang terasa penuh tuntutan.
|baca Juga : https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-7288603/kisah-jeffrey-lang-profesor-as-yang-jadi-mualaf-usai-baca-al-quran
Mas Malik dan Lina sama-sama berpegangan pada satu keyakinan: “Kalau Allah masih sayang sama kita, kita bakalan diuji terus.”. Mereka memilih untuk bersyukur atas segala takdir dan berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah, karena bantuan Allah selalu datang pada saat-saat yang tidak terduga, seperti datangnya makanan di saat kelaparan atau tempat tinggal di saat mereka tidak punya apa-apa.
Kisah mereka menjadi pengingat bagi setiap Muslim, terutama Mualaf, untuk tidak pernah berputus asa dengan rahmat Allah. Mereka berpesan: “Kalau sudah tahu kebenaran, janganlah segala apa-apa tuh balik ke belakang. Lihatlah ke depan.”. Ujian-ujian yang datang adalah cara Allah untuk menguji dan menguatkan keimanan hamba-Nya.
