Perjalanan spiritual seorang mualaf seringkali dipenuhi dengan ujian dan pencarian yang mendalam. Hal ini dialami oleh Fandy W. Gunawan. Uniknya, di awal keislamannya, ia melalui fase pembuktian iman yang ekstrem: hanya berpedoman pada Al-Qur’an dan menolak Hadis selama hampir 10 tahun (2005 hingga 2015).
Fandy saat itu beranggapan bahwa Hadis adalah ucapan seorang manusia, sehingga ia sempat berpikir bahwa Nabi Muhammad hanyalah manusia biasa yang “kebetulan aja kelewatan firman Allah”. Fokus utamanya adalah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang benar, dengan meninjau janji-janji Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Pembuktian Janji Allah dan Kekuatan Al-Qur’an
Selama masa “proving” tersebut, Fandy menyaksikan bahwa janji-janji Allah dalam Al-Qur’an dipenuhi semua, bahkan janji terhadap non-muslim. Ia menjelaskan bahwa orang-orang baik yang belum beriman akan dibalas secara tunai (cash) di dunia, menjelaskan mengapa sebagian non-muslim nampak dimudahkan rezekinya.
|Baca juga:
https://baitulmaqdis.com/2025/11/20/hidayah-al-ikhlas/
Titik balik terbesarnya adalah saat ia mulai menyadari bahwa Nabi Muhammad memiliki mukjizat yang jauh lebih besar dan luar biasa dibanding nabi-nabi sebelumnya, meskipun secara kasat mata Nabi Muhammad tidak menunjukkan mukjizat-mukjizat fisik yang dahsyat seperti membelah lautan atau menghidupkan orang mati.
Dua mukjizat utama Nabi Muhammad SAW yang disadari Fandy adalah:
Kemurnian dan Keabadian Al-Qur’an: Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang kemurniannya benar-benar dijaga oleh Allah hingga kini. Fandy menyebutkan bahwa jika seluruh tulisan di dunia hilang, Al-Qur’an dapat dibikin ulang dalam satu atau dua hari karena banyaknya para penghafal (Hafiz).
Universalitas Ibadah Salat: Perintah salat yang menggunakan bahasa Arab dan tata cara yang sama, di mana pun seorang muslim berada, adalah sebuah keajaiban. Ini menciptakan sistem yang terhubung (coupled) dan menghilangkan rasa asing bagi muslim di belahan dunia manapun,, membuktikan desain Allah yang sempurna.
Ujian Berat dan Keislaman Keluarga
Perjalanan Fandy sebagai mualaf juga dipenuhi ujian (fitnah), yang ia yakini sebagai sunatullah, sebagaimana Allah berfirman: “Apakah kalian berpikir kalian akan masuk surga sebelum datang ujian kepada kalian?”. Fandy menegaskan bahwa jika seseorang merasa sanggup bertahan, itu berarti ia menganggap ujian tersebut kecil.
|baca juga:
http://kisah mualaf satu persatu anggota keluarganya masuk islam
Kisah paling mengharukan adalah tentang keislaman keluarganya. Sang Ibunda (Mami), yang saat itu sedang sakit keras, bertanya apakah Fandy bersedia menemaninya ke gereja. Dari diskusi itu, Fandy menjelaskan bahwa Yesus (Nabi Isa) diperlakukan dengan baik hanya di dalam Islam. Dua minggu setelah diskusi yang mendalam tersebut, Ibunda Fandy mengucapkan syahadat sebelum beliau meninggal dunia, yang menjadi titik balik bagi keislaman seluruh keluarga intinya—termasuk adik-adiknya.
Sebagai penutup, Fandy W. Gunawan yang kini aktif di Mualaf Center Indonesia (MCI) memberikan pesan kunci bagi para mualaf yang sedang diuji:
“Berharaplah selalu kepada Allah, bukan kepada manusia. Ketika kamu merasa masalahmu sudah mentok dan tidak ada manusia yang mau membantu, di saat itulah Allah akan membuktikan janji-Nya.”

