Mukjizat Al-Fatihah dari Ayah Konghucu Hingga Hidayah Meninggalkan Narkoba.
Kisah mualaf seringkali lekat dengan perjuangan, penolakan, dan pengorbanan. Namun, kisah Bapak Yusuf Haryanto, seorang mualaf berdarah Tionghoa, menyajikan latar belakang unik yang menunjukkan bahwa benih keimanan bisa datang dari mana saja, bahkan dari ritual ayahnya yang menganut Konghucu.
Benih Hidayah dari Al-Fatihah Ayah yang Buta Huruf
Yusuf Haryanto terlahir dan dibesarkan dalam keluarga yang beragam (gado-gado), di mana ia sendiri awalnya menganut agama Kristen. Namun, sejak kecil, ada satu keanehan dari sosok almarhum ayahnya yang selalu menjadi tanda tanya besar.
Ayah Yusuf yang buta huruf dan menganut Konghucu, rupanya kerap didengar membaca surat Al-Fatihah, dua Kalimah Syahadat, dan surat pendek lainnya seperti Al-Ikhlas (Qulhu) saat melakukan ritual sesajen.
Setelah ia dewasa, misteri itu terungkap. Dahulu, saking inginnya bisa membaca bacaan tersebut, sang ayah rela mencuri dengar pelajaran mengaji dari balik kolong rumah panggung. Berbekal modal pendengaran saja, beliau mampu menghafal bacaan-bacaan fundamental Islam tersebut. Ini adalah pemantik hidayah pertama bagi Yusuf. Ia bahkan sempat mencoba belajar Iqra secara diam-diam saat SMP.
Mualaf Karena Nikah, Bertahan Karena Allah
Pada tahun 2009, Yusuf Haryanto mantap bersyahadat. Ia mengakui, motivasi awal terbesarnya adalah karena syarat untuk menikahi wanita yang ia cintai.
Namun, keputusannya ini memicu konflik besar. Sebagian saudara besarnya menolak keras pernikahan tersebut. Penolakan ini semakin berat karena Yusuf merasa memiliki utang budi finansial—ia dibiayai sekolah oleh salah satu saudaranya. Tekanan untuk kembali ke agama lama sangat terasa.
“Saya akan tetap nikah. Walaupun tanpa izin dari saudara, saya akan tetap nikah,” tegas Yusuf.
Beruntung, orang tuanya bersikap moderat dan merestui keputusannya. Dengan tekad kuat, ia melepaskan diri dari segala ketergantungan dan tanggung jawab utang budi materi demi menjalankan keyakinan barunya.
Keajaiban Islam: Lepas dari Mabuk dan Narkoba Tanpa Paksaan
Titik balik terpenting dalam hidup Yusuf terjadi setelah ia mualaf, bukan karena intervensi manusia, melainkan karena keimanan itu sendiri.
Yusuf mengakui masa lalunya sebagai anak berandal yang akrab dengan minuman keras dan narkoba. Namun, setelah bersyahadat, keajaiban terjadi.
“Semenjak saya mualaf tahun 2009, alhamdulillah yang kayak begitu (minum dan narkoba) bisa lepas saja. Dengan sendirinya, tanpa ada paksaan atau tuntutan dari pihak istri.”
|Baca Juga: https://baitulmaqdis.com/2025/11/26/mukjizat-abadi-nabi-kisah-fandy-w-gunawan-memeluk-islam/
Meskipun istrinya mengetahui masa lalunya, sang istri tidak pernah menuntut. Perubahan itu datang murni karena kesadaran akan ajaran Islam yang melarang segala sesuatu yang memabukkan dan merusak. Baginya, langkah ini adalah ikhtiar pertamanya dalam memperbaiki diri, terlepas dari ibadah wajib lainnya yang masih ia proses.
Selain itu, Yusuf juga sangat terkesan dengan aspek kebersihan dalam Islam. Ia membandingkan kebiasaan masuk rumah ibadah tanpa melepas alas kaki di agama lamanya, dengan anjuran bersuci (wudu) bahkan sebelum beribadah dan keharusan melepas alas kaki sebelum masuk masjid.
Ujian Terberat dan Mukjizat Rezeki
Tak lama setelah memeluk Islam, Yusuf dan istri diuji dengan cobaan ekonomi yang amat berat. Saat anak kedua lahir, mereka kehabisan beras dan susu formula. Ia merasa sudah tidak memiliki jalan keluar secara logika manusia.
Di saat-saat paling sulit itu, Yusuf hanya bisa berserah diri sepenuhnya.
|Baca Juga: https://ayasofya.id/kisah-mualaf-lukas-pemuda-dari-jerman/
“Ya Allah, walaupun saya boleh dibilang cuma Islam KTP, saya hanya meminta dan memohon hanya kepada-Mu. Di rumah beras sudah enggak ada, susu anak sudah enggak ada. Selain kepada-Mu, kepada siapa hamba meminta?”
Menakjubkan, setelah doa tulus itu, rezeki datang dengan cara tak terduga. Selang beberapa jam, ia mendapat panggilan kerja di bidang proyek sebagai tukang bangunan. Rezeki benar-benar datang dari arah yang tak disangka-sangka (Min haitsuma laa yahtasib).
Pengalaman ini mengajarkan Yusuf tentang pentingnya Tawakal. Ia beberapa kali merasakan bahwa selama ia benar-benar berserah dan memohon, Allah akan menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk memberikan pertolongan.
Pesan untuk Mualaf dan Generasi Muda
Kisah Yusuf Haryanto menjadi penguat bagi mualaf lain yang tengah diuji. Ia pernah ditawari satu rumah dan jaminan finansial agar kembali ke agama lama secara halus, namun ia tolak tegas. Ia bahkan memilih keluar dari pekerjaan tersebut karena khawatir imannya tergelincir.
Pesan utamanya untuk sesama mualaf:
“Jangan pernah takut dengan masalah. Karena di balik masalah semua, Allah pasti kasih jalan.”
Adapun pesan untuk anak-anaknya, terutama sang putra yang kini beranjak remaja, adalah satu: “Jangan pernah meninggalkan akidah.”
Kisah Yusuf membuktikan bahwa meskipun seseorang memeluk Islam karena pernikahan (alasan duniawi), yang membuatnya bertahan adalah keindahan, kesucian, dan pertolongan Allah yang ia rasakan dalam setiap lika-liku kehidupannya.
