Perjalanan Spiritual Eti Tresia Menemukan Islam
Perjalanan menjemput hidayah sering kali melalui jalan yang terjal dan penuh liku. Hal inilah yang dialami oleh Eti Tresia, seorang wanita asal Bogor yang memutuskan memeluk agama Islam pada tahun 2021. Mantan fasilitator gereja ini membagikan kisah harunya tentang bagaimana Tuhan membimbingnya pulang melalui mimpi dan menguatkannya di tengah badai ujian.
Panggilan Lewat Mimpi dan Sejuknya Hijab
Sebelum menjadi mualaf, Eti adalah sosok yang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan lamanya. Namun, sebuah pengalaman spiritual yang tidak biasa mulai mengetuk pintu hatinya. Ia bermimpi berada di sebuah ruangan kosong yang berisi tulisan kalimat syahadat dalam huruf latin. Mimpi itu datang berulang kali, disertai penampakan sebuah buku hijau dengan tulisan Arab yang indah.
|Baca Juga: https://www.unpak.ac.id/khazanah-ramadhan/kisah-aisha-bhutta-seorang-mualaf-yang-mengislamkan-30-orang
“Aku cuek saja awalnya, tetap menjalankan tugas di gereja. Tapi mimpi itu datang lagi,” kenang Eti.
Tak hanya lewat mimpi, sinyal hidayah juga hadir saat ia tanpa sengaja mencoba mengenakan hijab untuk keperluan video di kelurahan. “Begitu pakai, berasa adem banget, enak banget,” ujarnya. Hal-hal kecil inilah yang perlahan menumbuhkan benih keinginan untuk mengenal Islam lebih dalam.
Ujian Berat: Perpisahan dan Penolakan Keluarga
Keputusannya untuk bersyahadat tidaklah mudah. Eti harus menghadapi kenyataan pahit dalam kehidupan rumah tangganya yang berujung pada perceraian. Namun, ujian terberat baginya bukanlah perpisahan dengan suami, melainkan penolakan dari anak-anak dan saudara-saudaranya.
“Ujian yang paling berat adalah saat menghadapi anak-anak. Mereka keluar dari kehidupan aku, tidak mau datang,” tutur Eti dengan suara bergetar. Saudara-saudaranya pun mengeluarkan kata-kata kasar yang sangat menyakitkan hati. Di masa-masa awal keislamannya, Eti sering menghabiskan malam dengan menangis, merasa sangat sendirian tanpa dukungan finansial maupun emosional dari keluarga.
Keajaiban Doa di Tengah Kesulitan
Islam mengajarkan Eti untuk bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah. Saat ia kesulitan membayar kontrakannya yang seharga Rp800.000, Eti bersujud dan menjerit dalam doanya. Tak lama kemudian, Allah memberikan solusi yang tidak terduga. Bukan uang yang datang, melainkan sebuah kontrakan baru yang jauh lebih layak dengan harga hanya setengahnya.
“Allah itu tidak buta, Allah mendengar jeritan umat-Nya,” tegasnya.
Buah Kesabaran: Hidayah untuk Sang Anak
Kesabaran Eti mulai membuahkan hasil manis. Doa-doa tulus yang ia langitkan untuk anak-anaknya mulai dijawab satu per satu. Kini, dua dari enam anaknya telah menyusul jejaknya memeluk Islam. Bahkan, anak bungsunya yang dulu sangat menentang, kini mulai menunjukkan ketertarikan pada Islam dengan sering mengikuti kegiatan tahlilan di lingkungan rumahnya.
Pesan untuk Sesama Mualaf
Di akhir kisahnya, Eti memberikan pesan penguat bagi mereka yang mungkin sedang goyah dalam keimanannya karena ujian. Ia menekankan bahwa Allah adalah “Bapak” yang Maha Sempurna yang tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang meminta.
“Tetaplah teguh, karena Allah itu Maha Mendengar. Sebanyak apa pun masalah yang kita hadapi, jika kita menjerit kepada Allah, Dia pasti mendengar dan memberikan yang kita butuhkan,” tutupnya.
