Perjalanan Spiritual dan Pengabdian Mathius D. Fakhiri
Suara lembut Mathius D. Fakhiri sedikit bergetar saat mengucapkan dua kalimat syahadat. Di hadapan para saksi, mantan Kapolda Papua itu menutup mata sejenak, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Maret 2024 menjadi saksi sebuah babak baru dimulai. Bagi sebagian orang, perpindahan keyakinan mungkin tampak seperti loncatan mendadak, namun bagi Mathius, ini adalah muara dari pencarian panjang yang melelahkan namun menenteramkan.
Antara Kedisiplinan dan Perenungan
Lahir pada 6 Januari 1968 di Ransiki, Manokwari Selatan, Mathius tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai kedisiplinan dan keberagaman. Sebagai putra dari Nathalis Yami Fakhiri, seorang Letkol Purnawirawan TNI, dan Martha Kabuare, seorang perawat, Mathius terbiasa berpindah tugas mengikuti pengabdian sang ayah.
Dari Merauke hingga Jayapura, masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah sekolah—mulai dari SD YPK Merauke hingga SMA Negeri 2 Jayapura. Pendidikan tersebut membentuk karakter Mathius yang adaptif dan terbuka terhadap perbedaan. Kariernya di kepolisian pun cemerlang, puncaknya ia meraih pangkat bintang tiga dan menjabat sebagai Kapolda Papua, sebuah posisi yang menuntut ketegasan sekaligus pendekatan hati.
Menemukan Kedamaian di Masa Transisi
Tahun 2024 menjadi titik refleksi terbesar bagi Mathius. Keputusannya untuk pensiun dini demi maju sebagai Calon Gubernur Papua di Pilkada 2024 memberinya ruang lebih luas untuk merenung. Di masa jeda tugas inilah, ketertarikannya pada Islam semakin dalam.
|Baca Juga: https://baitulmaqdis.com/2025/12/24/gervonta-tank-davis-menjadi-mualaf/
“Saya merasa damai,” ucapnya singkat saat ditanya alasannya memeluk Islam. Tak ada sensasi berlebihan. Baginya, ini adalah urusan pribadi—sebuah pencarian spiritual yang akhirnya berlabuh pada keyakinan yang paling menenteramkan hatinya.
Setelah menjadi mualaf, Mathius tak hanya sekadar berganti identitas. Selama bulan Ramadan, ia terlihat aktif mengunjungi masjid-masjid, mendalami ilmu agama, dan berbagi sedekah. Ia membuktikan bahwa Islam baginya adalah sebuah proses belajar yang terus berjalan.
Melangkah untuk Papua
Kini, Mathius D. Fakhiri telah menanggalkan seragam dinasnya. Namun, semangat pengabdiannya tak luntur. Dengan pijakan keyakinan baru, ia melangkah menuju kancah politik sebagai calon Gubernur Papua.
Langkahnya kini bukan lagi berdasarkan instruksi komando, melainkan panggilan hati untuk membangun tanah kelahirannya. Di balik sorotan publik dan spekulasi politik, Mathius tetap konsisten: ia adalah pria yang telah menemukan ketenangan jiwanya, dan siap membawa ketenangan tersebut untuk masa depan Papua yang lebih baik.
“Ini bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang menyadari kebenaran Tuhan.” – Mathius D. Fakhiri
Perjalanan Mathius D. Fakhiri adalah potret seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dari seorang jenderal bintang tiga hingga menjadi seorang mualaf dan politisi, ia menunjukkan bahwa perubahan adalah bagian dari pendewasaan jiwa. Kini, lembaran baru telah terbuka bagi sang putra daerah untuk terus berbakti bagi Bumi Cendrawasih.
