Dalam tayangan ini, Koh Ricky, seorang mualaf Tionghoa, membagikan perjalanan spiritualnya yang berliku dan kritis, berawal dari agama Buddha. Setelah mempelajari teologi Kristen secara mendalam, ia justru menemukan beberapa keraguan mendasar yang membuatnya urung memeluk agama tersebut.
Keraguan Teologis dan Inskonsistensi Kitab Suci
Pencarian utamanya berpusat pada konsep Ketuhanan. Koh Ricky mempertanyakan konsep Tritunggal (Yesus sebagai Tuhan, dan Roh Kudus) karena bertentangan dengan prinsip Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga menyoroti adanya berbagai versi kitab suci (seperti 83 kitab Ortodoks, 73 kitab Katolik, dan 66 kitab Protestan) yang dinilai sebagai inkonsistensi, karena kitab suci seharusnya tunggal dan tidak berbeda-beda.
Ia menyimpulkan bahwa misi Yesus di Yerusalem adalah untuk membantah pengaruh paham paganisme (seperti penyembahan tiga dewa dari Babilonia dan Romawi) dan menegaskan kembali bahwa Tuhan itu Esa.
|Baca juga:
http://mimpi neraka ke syahadat kisah ustaz naga kunadi mualaf tionghoa terbongkar
Hidayah Melalui Logika dan Sains Al-Qur’an
Titik balik terbesar dalam pencariannya adalah ketika ia dihadapkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang selaras dengan sains modern. Secara khusus, ia tergampar oleh kebenaran ilmiah dalam Surat At-Tariq tentang asal-usul sperma yang keluar dari tulang sulbi (punggung). Informasi ini, yang disampaikan 1.400 tahun lalu, terbukti memiliki relevansi dengan penelitian kedokteran modern.
Bagi Koh Ricky, konsistensi antara wahyu dan sains membuktikan bahwa Islam adalah agama yang ditujukan untuk orang-orang yang mau berpikir, dan Nabi Muhammad bukanlah Nabi palsu.
|baca juga:
http://mayoritas mualaf tionghoa dari kelas pekerja
Pesan untuk Mualaf
Meskipun menghadapi tentangan keluarga, ia berpesan bahwa hidayah adalah rezeki terbesar dan tidak boleh ditunda. Ia menekankan agar umat Islam, khususnya mualaf, menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman utama, bukan sekadar mengikuti perkataan ustaz atau haji.
