
Dari Benci Hingga Bertemu Ketenangan
Scilia Ning Widasti, yang akrab disapa Ci Amoi, adalah seorang mualaf dengan kisah spiritual yang luar biasa. Dalam wawancaranya, ia membuat pengakuan mengejutkan: ia dulunya sangat membenci Islam, terutama muslimah berhijab, yang ia anggap “nggak waras” karena dianggap tidak logis di negara tropis yang panas. Sebagai seorang Katolik yang tidak taat—yang hanya beribadah pada momen-momen besar—Ci Amoi menjalani kehidupan yang bebas dan mewah. Namun, Tuhan punya rencana lain yang membawanya dari puncak kehidupan menuju titik nol.
Titik Terendah yang Membawa Perubahan (2017)
Tahun 2017 menjadi tahun kehancuran bagi Ci Amoi. Ia jatuh ke titik terendah (bahkan minus) secara ekonomi. Aset habis, utang menumpuk, bahkan ia tidak sanggup membeli susu untuk anak bungsunya. Dalam kondisi frustrasi, ia berjalan kaki di Tanjung Pinang dengan sisa uang Rp15.000. Di sinilah titik balik dimulai:
Wasilah Pertolongan: Dalam keadaan setengah waras karena stres, ia ditolong dan dibawa ke rumah sehat oleh seorang laki-laki yang ternyata adalah seorang Ustadz.
\Baca juga:
http://mukjizat-abadi-nabi-kisah-fandy-w-gunawan-memeluk-islam
Ketenangan Al-Qur’an: Ketika berkunjung untuk mengucapkan terima kasih, Ci Amoi terdiam saat mendengar Ustaz dan istrinya melantunkan ayat Al-Qur’an (setoran bacaan). Ketenangan yang ia rasakan pada momen itu adalah kedamaian hakiki yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya, bahkan saat ia mencari pelarian di kehidupan malam.
Visi Dosa: Tak lama kemudian, ia mengalami peristiwa spiritual di mana dosa-dosa masa lalunya dipertontonkan kepadanya seperti “layar lebar”. Pengalaman ini membuatnya menangis histeris karena merasa sangat hina, mendorongnya untuk mencari pengampunan dari Tuhan, yang pada akhirnya memicu pertanyaan logis tentang keyakinannya terdahulu.
Hidayah, Logika, dan Mukjizat Hijrah
Pencarian jawaban atas kegelisahan tersebut membawanya kembali berdiskusi dengan Ustaz. Ci Amoi, yang menuntut logika dalam beragama, menemukan bahwa Islam adalah agama yang sangat teratur dan simpel. Ia terkesan bahwa ajaran Islam mengatur segala aktivitas, mulai dari bangun tidur hingga masuk kamar mandi, karena Tuhannya (Allah) memahami kapasitas umat-Nya.
|Baca juga:
http://eric-abidal-peluk-islam-dengan-keyakinan-penuh
Setelah memeluk Islam pada tahun 2017, ia dihadapkan pada perintah berat dari Ustaz untuk hijrah ke Tanah Jawa demi meninggalkan circle kehidupan lamanya. Di sinilah mukjizat terjadi:
Kejutan di Bogor: Ketika ia menghubungi ibunya, sang ibu memberitahu bahwa uang yang pernah ia titipkan dulu telah dibelikan rumah di Bogor. Hal ini menguatkan keyakinannya bahwa petunjuk sang Ustaz adalah kehendak Allah.
Pesan Kunci: Berprasangka Baik kepada Allah
Perjalanan keislamannya tidak berhenti di sana. Ia sempat kembali menghadapi ujian berat di bidang ekonomi, yang bahkan membuatnya hampir kembali tergelincir. Dari semua liku-liku kehidupan yang ia hadapi, Ci Amoi menyampaikan pesan terpenting untuk para mualaf dan muslimin:
“Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka, kita harus selalu bersangka baik (Husnudzon) kepada Allah, Rasulullah, dan sesama umat.”
Ia menegaskan bahwa segala sesuatu membutuhkan perjuangan dan kita harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan keimanan. Saat ini, Ci Amoi aktif mendirikan yayasan untuk komunitas mualaf, dengan harapan sisa umurnya bisa bermanfaat bagi umat, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain (khairunnas anfa’uhum linnas).
