
Perjalanan Aay Sugiarto dari Kekristenan Aktif
Wawancara bersama Aay Sugiarto di Baitul Maqdis Channel mengungkap kisah mualaf yang penuh inspirasi dan tantangan. Berasal dari garis keturunan Tionghoa (Chinese) dan keluarga yang aktif dalam Kekristenan—dengan kakek beragama Konghucu dan orang tua beragama Kristen Aay Sugiarto menghabiskan masa mudanya sebagai seorang yang sangat taat. Ibunda beliau dikenal sebagai sosok yang super aktif dalam kegiatan gereja, yang kemudian membentuk Aay menjadi pribadi yang tidak pernah bolos sekolah minggu, bahkan rela berjalan kaki selama 15-20 menit demi beribadah.
Menemukan Ketertarikan pada Islam
Meskipun dibesarkan di lingkungan yang taat, benih ketertarikan pada Islam mulai muncul di masa SMP. Saat jam istirahat sekolah, Aay sering memperhatikan teman-temannya yang Muslim di musala. Ia penasaran dengan tata cara ibadah yang unik, mulai dari proses berwudu—mencuci tangan, hidung, muka—yang ia nilai sangat bersih, hingga gerakan salat (rukuk dan sujud) yang dianggapnya berbeda.
Pergolakan hati untuk memeluk Islam semakin kuat seiring berjalannya waktu, namun ia ingin mempelajari tata caranya terlebih dahulu.
Pesan Terakhir Sang Ibu: Sebuah Restu yang Berat
Titik balik terpenting dalam hidup Aay adalah ketika ia menyampaikan niatnya untuk masuk Islam kepada sang ibu. Dalam kondisi ibunya sedang sakit, Aay memberanikan diri bertanya sambil memijat. Ia meminta sang ibu jujur dan tidak marah.
|Baca juga:
http://jake-matthews-memeluk-agama-islam/
Meskipun sang ibu jujur mengatakan bahwa keputusannya adalah hal yang berat baginya, ia memberikan restu dengan syarat yang menjadi pesan terakhirnya:
“Aay sudah dewasa… Mama enggak bisa maksa. Satu pesan mama, jangan pernah mempermainkan agama itu saja. Jadi kalaupun masuk Islam pun, Islam mah yang benar lah.”
Restu tersebut diberikan karena sang ibu percaya Aay telah dewasa dan bisa memilah mana yang baik dan tidak baik.
Momen Syahadat dan Ujian Awal
Setelah mendapat izin, Aay Sugiarto mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Jampang, disaksikan oleh banyak santri. Rasa grogi dan gemetar sempat dirasakannya , namun setelah syahadat diucapkan dengan lancar, perasaan langsung berubah. Ia merasakan hatinya tenang dan terharu, serta merasakan persaudaraan yang kuat ketika para santri menyambutnya dengan salaman dan pelukan.
Ujian pasca-mualaf datang dari lingkungan, terutama saudara-saudara yang mempertanyakan keputusannya. Namun, Aay telah teguh dengan niatnya dan menghadapi segala risiko ke depan seorang diri.
Perubahan Hidup: Perjuangan Meninggalkan Kebiasaan Lama
Salah satu perubahan besar pasca-Islam adalah perjuangan Aay untuk meninggalkan kebiasaan lamanya, seperti sering nongkrong dan mengonsumsi minuman keras (alkohol). Kebiasaan ini bahkan sempat menyebabkan pertengkaran dengan istri.
|baca juga:
http://lima-pesan-untuk-mualaf-agar-iman-tak-goyah
Namun, ia bertekad untuk memperbaiki diri. Dengan dukungan penuh dari istri dan dorongan kuat setelah memiliki anak perempuan, Aay akhirnya berhenti total dari minum-minuman keras saat anaknya berusia 1,5 tahun, setelah berjanji pada anaknya yang sedang tidur.
Pertolongan Allah yang Tak Terduga
Aay juga membagikan kenikmatan dari Allah yang dirasakan setelah berhijrah. Saat ia sakit dan tidak bisa bekerja (buruh bangunan), ia memaksakan diri bekerja demi mencari nafkah.
Setelah salat Subuh dan berdoa agar diberi kesehatan dan kekuatan untuk mencari rezeki, Allah mengabulkan doanya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Pada siang hari, sekitar pukul 13:30, datanglah hamba-hamba Allah dari sebuah yayasan yang memberikan bingkisan sembako (beras, kopi, teh, gula, minyak, odol)untuk membantu para mualaf. Aay terharu dan yakin bahwa bantuan tersebut adalah jawaban langsung dari doa dan pertolongan dari Allah SWT.
