Wali-Wali Allah
Seorang muslim mengimani bahwa Allah ﷻ memiliki para wali dari hamba- hamba-Nya yang Allah ﷻ jadikan ikhlas beribadah kepada-Nya; Dia menjadikan mereka taat kepada-Nya. Allah ﷻ memuliakan mereka dengan kecintaan-Nya dan menganugerahkan kepada mereka karamah-Nya.
Allah ﷻ adalah wali mereka, yang mencintai mereka dan dekat dengan mereka. Sebaliknya, mereka adalah wali-wali Allah ﷻ yang selalu mencintai dan mengagungkan-Nya. Mereka senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menyuruh orang lain agar menjalankan perintah-Nya. Mereka senantiasa menjauhi segala larangan-Nya dan menyuruh orang lain agar menjauhi larangan-Nya. Mereka senantiasa mencintai apa yang di cintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya.
Jika mereka memohon kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ pasti memberi mereka. Jika mereka meminta pertolongan kepada Allah ﷻ, ,maka Allah ﷻ akan memberinya pertolongan. Jika mereka meminta perlindungan kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan memberikan perlindungan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan, serta mendapatkan karamah dan berita gembira di dunia dan juga di akhirat.
Setiap mukmin yang bertakwa merupakan wali Allah ﷻ. Hanya saja, derajat mereka berbeda-beda sesuai dengan kadar ketakwaan dan keimanan mereka. Siapa yang kadar keimanan dan ketakwaannya lebih banyak, maka derajatnya di sisi Allah ﷻ lebih tinggi dan karamahnya pun lebih banyak.
Penghulu para wali adalah para rasul dan para nabi, setelah itu orang-orang beriman.
Sebagian dari karamah yang Allah ﷻ anugerahkan ke tangan-tangan mereka adalah mampu mengubah makanan yang sedikit menjadi banyak; menyembuhkan penyakit; menyelami lautan; atau tidak terbakar oleh api. Itu semua merupakan jenis mukjizat. Bedanya, mukjizat selalu disertai dengan tantangan-tantangan, sementara karamah tidak disertai dan tidak terikat dengan tantangan-tantangan. Adapun karamah yang paling agung adalah keistikamahan dalam ketaatan dengan mengerjakan seluruh perintah-perintah syariat dan menjauhi segala perbuatan yang haram dan juga larangan-larangan Allah ﷻ. Semua ini. Ini berdasarkan dalil-dalil di bawah ini:
Dalil Al-Qur’an
“Ingatlah wali-wali Allah ﷻ itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah ﷻ. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (Qs. Yunus: 62-64)
“Allah ﷻ pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman).” (Qs. Al-Baqarah: 257)
“…Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa.. ” (Qs. Al-Anfal: 34)
“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah ﷻ yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) Dia melindungi orang-orang saleh… ” (Qs. Al-A’raf: 196)
“…Demikianlah Kami palingkan darinya keburukan dan kejelekan. Sungguh, dia (Yusuf termasuk hamba Kami yang terpilih.” (Qs. Yusuf: 24)
“Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.” (Qs. Al-Isra’: 65)
Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah ﷻ” (Qs. Ali-Imran: 37)
“Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut diundi, ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian) Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Kebangkitan.” (Qs. Ash-Shaffat: 139-144)
“Maka dia Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau… ” (Qs. Maryam: 24-26)
“Kami (Allah ﷻ) berfirman, Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. ” (Qs. Al-Anbiya’: 69-70)
“Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan? (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, Ya Rabb kami, berikanlah rahmnat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, selama beberapa tahun. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).” (Qs. Al-Kahfi: 9-12)
Dalil As-Sunnah
“Siapa yang memusuhi wali- Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, sehingga Aku pun mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku-lah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar; pandangannya yang ia jadikan untuk memandang; tangannya yang ia jadikan untuk memukul; dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Iika ia meminta-Ku, pasti Ku beri, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi. (HR. Al-Bukhari, kitab Ar-Raqaiq (38))
Ạku akan membalas dendam untuk wali-wali-Ku sebagaimana balas dendamnya singa yang sedang marah.”
“Di antara para hamba Allah ﷻ ada seseorang yang seandainya ia bersumpah atas nama Allah ﷻ, niscaya Allah ﷻ akan mengabulkan sumpahnya. (HR Mulim (1 302), Imam Ahmad: 3/128,167,284)
“Sungguh, pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang mendapatkan ilham. Jika ada pada umatku seseorang yang mendapatkan ilham, maka ia adalah Umar.” (HR Al-Bukhari: 5/15. Disebutkan juga dalam Fathul Bari 7/42)
Dahulu ada seorang wanita dari Bani Israil yang sedang menyusui anaknya. Lalu melintas di hadapannya seorang laki-laki berpangkat yang sedang menunggang kudanya. la pun berkata, Ya Allah ﷻ jadikanlah anakku ini seperti orang itu.’ Tiba-tiba anaknya yang sedang menyusu itu menoleh seraya berkata, ‘Ya Allah ﷻ, jangan Engkau jadikan aku seperti dia’. “(HR Al-Bukhari: 4/201, Muslim 4/1976, Musnad Ahmad: 2/301,307,308)
Ucapan anak kecil yang masih menyusu itu merupakan karamah bagi anak dan orangtuanya.
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai kisah Juraij, seorang ahli ibadah, dan ibunya. Ketika ibunya memohon dalam doanya, “Ya Allah, jangan engkau matikan ia sampai Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah wanita pezina itu.” Maka Allah ﷻ pun mengabulkan doa ibunya sebagai karamah dari Allah ﷻ untuknya. Ketika orang-orang menuduh bahwa anak zina itu dari Juraij, maka Juraij pun bertanya kepada si bayi yang masih menyusu, “Siapa bapakmu?” Anak itu menjawab, “Bapakku adalah seorang penggembala kambing.”(Telah di takhrij) Ucapan anak yang masih menyusu itu merupakan karamah bagi Juraij, sang ahli ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai tiga orang yang berlindung di dalam goa dan tertutup oleh sebongkah batu besar. Lantas mereka berdoa kepada Allah ﷻ dan bertawasul kepada-Nya dengan amalan-amalan saleh mereka. Maka, Allah ﷻ mengabulkan doa mereka dan membebaskan mereka hingga mereka dapat keluar dari doa dalam keadaan selamat. Pertolongan tersebut sebagai karamah bagi mereka.
Rasulullah ﷺ juga bersabda mengenai kisah seorang rahib dan ghulam, yang kisahnya adalah bahwa ghulam pernah melempar seekor binatang buas yang menghalangi perjalanan banyak orang yang sedang lewat. Ia melempar binatang buas itu dengan sebuah kerikil, sehingga binatang buas itu mati dan orang-orang dapat melewati jalan tersebut. Peristiwa itu merupakan karamah bagi si ghulam. Begitu juga kisah seorang raja yang berdaya upaya untuk membunuh si ghulam tersebut dengan berbagai cara dan sarana, tapi tidak kunjung berhasil. Sampai-sampai raja pernah melemparkan si ghulam dari gunung yang sangat tinggi. tapi ia tidak mati. Raja juga pernah membuangnya ke tengah lautan, tapi ia bisa selamat darinya dengan berjalan dan tidak mati. Maka itu semua merupakan karamah bagi si ghulam, seorang mukmin yang saleh. (HR Muslim, kitab Az-Zuhud(73))
Bukti sejarah
Pena sejarah telah mencatat kisah-kisah para wali Allah ﷻ serta karamah mereka yang tak terhitung, yang telah diriwayatkan oleh ribuan ulama dan mereka saksikan langsung. Di antaranya adalah:
Pertama: Riwayat yang menceritakan bahwa malaikat pernah memberi salam kepada Imran bin Hushain.
Kedua: Riwayat tentang Salman AlFarisi dan Abu Darda’ yang itu keduanya sedang makan dalam satu piring. Lalu tiba-tiba piring atau makanan yang ada di dalam piring itu bertasbih.
Ketiga: Pada saat Khubaib ditawan orang-orang musyrik Mekah, tiba-tiba ia mendapati buah anggur, dan ia pun memakannya. Padahal saat itu diMekah tidak ada anggur.
Keempat: Barra’ bin Azib jika ia bersumpah atas nama Allah ﷻ dalam suatu perkara, maka Allah ﷻ pasti mengabulkan sumpahnya. Sampai ketika terjadi Perang Qadisiah, ia bersumpah atas nama Allah ﷻ agar Allah ﷻ memenangkan kaum muslimin atas kaum musyrikin dan agar ia menjadi orang pertama yang syahid di medan pertempuran. Maka, terjadilah peritiwa seperti apa yang ia inginkan.
Kelima: Umar bin Khattab pernah berkhotbah di atas mimbar Rasulullah ﷺ di Madinah. Lalu tiba-tiba ia berseru, “Wahai pasukan, merapatlah ke gunung! Wahai sariyyah, merapatlah ke gunung!” Beliau memberikan instruksi kepada komandan satuan ekspedisi. Komandan tersebut ternyata mendengar suara Umar, dan kemudian ia mengarahkan pasukannya untuk menuju ke gunung. Sehingga tindakan itu menjadikan kemenangan bagi kaum muslimin dan kekalahan kaum musyrikin. Lalu satuan ekspedisi kembali ke Madinah dan memberitahukan kepada Umar dan para sahabat tentang suara Umar yang ia dengar.
Keenam: Al-Ala’ bin Al-Hadhrami pernah berdo’a dengan mengucapkan, “Wahai Zat Yang Maha Mengetahui, Wahai Zat Yang MahaMahabijaksana, Wahai Zat Yang Mahatinggi, Wahai Zat Yang Maha agung. Maka doanya pun dikabulkan, hingga ia bersama pasukan ekspedisinya dapat mengarungi lautan dan pelana-pelana kuda mereka tidak basah.
Ketujuh: Hasan Al-Bashri juga pernah berdoa kepada Allah ﷻ kecelakaan seseorang yang telah menyakitinya. Maka, seketika itu juga orang tersebut tersungkur dan mati.
Kedelapan: Seorang laki-laki dari daerah An-Nakha’ yang memiliki seekor keledai. Lalu keledai tersebut mati ketika dalam perjalanan. Maka lelaki itu pun mengambil air wudhu, kemudian shalat dua rakaat, dan berdo’a kepada Allah ﷻ . Maka, Allah ﷻ pun menghidupkan kembali keledainya dan ia pun bisa membawa kembali barang-barangnya.
Kisah-kisah tentang karamah wali-wali Allah ﷻ yang lain masih banyak bahkan tak terhitung jumlahnya; karamah-karamah yang telah disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan orang
Sumber : Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairy
