Perjalanan Awal: Dari Konghucu Menuju Hidayah Islam
Perjuangan Mualaf: Ibu Eni Alvionita, atau yang akrab disapa Ibu Noni, adalah seorang mualaf keturunan Tionghoa yang dibesarkan dalam lingkungan Konghucu. kisah-mualaf-belanda-dan-tionghoa-yang-memeluk-islam Ia mengungkapkan bahwa keluarganya cukup moderat dan demokratis dalam hal agama, di mana kerabatnya juga ada yang memeluk Kristen dan Buddha. Hingga Ujian Mualaf terbesarnya adalah saat ayah wafat.
Pintu masuknya Ibu Noni ke dalam Islam adalah melalui pernikahan. Ia menikah dengan seorang pria Muslim, namun pada awalnya, ia mengakui bahwa ia belum mendalami Islam secara serius.

Perjuangan Mendalami Iman
Tekad untuk mengenal Islam lebih dalam muncul seiring waktu. Karena kesulitan menghafal bacaan salat, Ibu Noni melakukan cara unik: ia menuliskan semua bacaan salat, mulai dari niat hingga tasyahud, di tangannya agar bisa dibaca saat salat.
Meskipun salat terasa berat dan cepat silih berganti, panggilan azan justru memberinya kekuatan. Ia merasa Allah SWT memanggilnya untuk bangun dan melawan rasa lelahnya.
“Allahu Akbar, panggilan azan itu saya merasa gini, bangun enggak loh, bangun enggak loh…”.
Puncak Ujian Mualaf: Cemoohan Sosial dan Kepergian Ayah
Setelah berhijab, ujian mualaf datang dari lingkungan sosialnya. Ia dicemooh dan dijauhi oleh teman-teman dari lingkungan ibadah sebelumnya (Litang). Ibu Noni bahkan mengalami pengalaman pahit ketika jilbabnya ditarik dan diejek sebagai “santri” saat menghadiri undangan.
Baca juga: perjalanan-mualaf-jake-matthews-ufc-alasan-the-celtic-kid-memeluk-islam/
Ujian Akidah Saat Ayah Wafat
Ujian terbesar terkait keimanan terjadi saat ayahnya meninggal dunia. Ibu Noni adalah orang yang merawat ayahnya hingga akhir hayat.
Ketika ayahnya meninggal, ia merasa terasingkan di tengah acara duka yang kental dengan tradisi non-Muslim. Sebagai seorang Muslimah, ia diuji dengan batasan akidah, di mana ia hanya mampu mendoakan ayahnya dengan membaca Al-Fatihah, meskipun orang-orang di sekitarnya mengatakan doa tersebut tidak akan sampai.
“Maaf ya, ayah enggak bisa mendoakan apa-apa buat papa kecuali Al-Fatihah, meskipun itu orang bilang katanya enggak bakalan sampai doa kita, karena lain akidah…”.
Meskipun diuji, ayahnya sendiri berpesan agar Ibu Noni menjalankan Islam dengan benar.
Ketenangan dan Harapan Seorang Mualaf
Terlepas dari semua tantangan, Ibu Noni menegaskan bahwa hidupnya kini lebih tenang. Ia kini rutin mengikuti pengajian, memperbanyak zikir dan selawat, serta menjalankan puasa Senin Kamis.
Kerinduan terbesarnya adalah menunaikan ibadah Umrah, yang bahkan sampai ia mimpikan. Namun, doa yang paling sering ia panjatkan adalah agar kedua anak laki-lakinya (usia 31 dan 21 tahun) dan suaminya dapat disatukan dalam keimanan yang sama, terutama agar bisa salat berjamaah bersama.
“Ya Allah semoga anak saya dua ini bisa mendoakan saya di saat saya tidak ada. Tolong jadi anak jadilah anak yang saleh…”.
Ia mengingatkan bahwa doa anak saleh adalah amal yang tidak akan terputus bagi orang tua.
Pesan Inspiratif Ibu Noni untuk Sesama Mualaf
Menutup kisahnya yang inspiratif, Ibu Noni menyampaikan pesan kepada sesama mualaf yang sedang diuji keimanannya:
“Jangan pernah takut untuk masuk Islam loh, biarkan mereka tidak merangkul kita. Kita yakin Allah tuh akan menolong kita di sananya,”.
Ia menekankan bahwa segala hal di dunia ini hanyalah titipan, dan yang abadi adalah kehidupan di akhirat. Selama kita yakin kepada Allah, Allah pasti akan menolong.
