Dalam ajaran Islam, kebersihan adalah bagian dari iman. Tidak hanya berkaitan dengan kebersihan jasmani, tetapi juga kesucian dalam menjalankan ibadah. Salah satu bentuk menjaga kebersihan adalah dengan mandi, baik yang bersifat wajib maupun yang disunnahkan. Artikel ini akan membahas secara ringkas namun lengkap mengenai mandi yang disunnahkan dalam Islam, berdasarkan hadis-hadis shahih dan praktik para sahabat.
Mandi sunnah adalah mandi yang tidak diwajibkan secara syariat, tetapi dianjurkan (sunnah) untuk dilakukan karena memiliki keutamaan tertentu, baik dari sisi ibadah maupun adab. Mandi-mandi ini tidak menyebabkan seseorang berdosa jika ditinggalkan, tetapi akan mendapatkan pahala jika dilakukan.
Mandi dalam Islam memiliki nilai penting, tidak hanya untuk kebersihan fisik, tetapi juga untuk menyempurnakan ibadah. Meski tidak wajib dalam semua kondisi, mandi sunnah merupakan bentuk taqarrub (pendekatan) kepada Allah dan bagian dari teladan Nabi ﷺ. Umat Islam dianjurkan untuk memahami waktu-waktu utama dalam melakukan mandi sunnah agar ibadah semakin sempurna dan diterima oleh Allah
Sunnah mandi ini dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, berdasarkan berbagai hadis shahih. Maka akan kami jelaskan beberapa kondisi di mana mandi disunnahkan:
Pertama, mandi untuk shalat jumat maka Shalat Jumat merupakan ibadah mingguan yang memiliki keistimewaan besar dalam Islam. Selain sebagai pengganti shalat Zuhur di hari Jumat, shalat ini juga menjadi momen berkumpulnya kaum Muslimin dalam majelis ilmu, dzikir, dan ibadah. Karena keutamaannya, Islam memberikan sejumlah adab dan tuntunan menjelang pelaksanaan shalat Jumat, salah satunya adalah anjuran untuk mandi sebelum pergi ke masjid.
Mandi ini tidak bersifat wajib, namun tergolong dalam mandi yang disunnahkan, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama berdasarkan hadis-hadis shahih.Dalam banyak riwayat shahih, Rasulullah ﷺ menganjurkan mandi bagi orang yang hendak melaksanakan shalat Jumat. Salah satunya adalah sabda beliau:“Jika salah seorang di antara kalian datang untuk shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi.” (HR. Bukhari no. 837 dan Muslim no. 844). Hadis ini menunjukkan bahwa mandi sebelum shalat Jumat sangat dianjurkan. Namun, hukum asalnya tidak wajib, sebagaimana dipahami dari beberapa riwayat lain dan pendapat mayoritas ulama.
Kedua, Mandi untuk Shalat ‘Idul Fitri dan Idul Adha islam adalah agama yang sangat memperhatikan kebersihan, terutama dalam menyambut ibadah-ibadah besar. Di antara momen penting dalam kalender Islam adalah Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Sebagaimana shalat Jumat, dua shalat ‘id ini juga memiliki beberapa adab yang dianjurkan, salah satunya adalah melakukan mandi sebelum berangkat ke tempat shalat. Meskipun tidak diwajibkan, mandi ini termasuk ke dalam mandi yang disunnahkan dalam Islam Dalam Al-Muwaththa’ Imam Malik meriwayatkan: “Bahwa Abdullah bin Umar mandi pada hari Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat shalat.” (Al-Muwaththa’, 1/177) Ulama sepakat bahwa perbuatan Ibnu Umar ini menunjukkan anjuran mandi sebelum shalat ‘id, apalagi beliau adalah sahabat yang dikenal sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Ketiga, Mandi Setelah Memandikan Jenazah islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kesucian, baik dalam ibadah maupun kehidupan sehari-hari. Dalam setiap fase kehidupan manusia, dari lahir hingga wafat, Islam mengajarkan adab dan tata cara yang penuh hikmah. Salah satunya adalah anjuran untuk mandi setelah memandikan jenazah. Walaupun tidak wajib, mandi ini tergolong dalam mandi yang disunnahkan dalam Islam, sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah serta upaya menjaga kebersihan dan kesucian diri.Anjuran mandi setelah memandikan jenazah terdapat dalam hadis dari Abu Hurairah, ia berkata: “Barangsiapa memandikan jenazah, hendaklah dia mandi. Dan barangsiapa mengangkat jenazah, hendaklah dia berwudhu.” (HR. Tirmidzi no. 993, Abu Dawud no. 316, dan Ahmad) Hadis ini menjadi dasar hukum bagi disunnahkannya mandi setelah memandikan jenazah. Meskipun demikian, para ulama menjelaskan bahwa mandi tersebut tidak wajib, karena tidak ada dalil tegas yang mewajibkannya, dan riwayat-riwayatnya juga tidak mencapai derajat qath’i (pasti).
Keempat, Mandi Bagi Orang Kafir yang Masuk Islam dan Ketika seseorang memutuskan untuk masuk Islam, ia telah berpindah dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman. Dalam proses ini, Islam mengajarkan adab dan aturan tertentu yang mencerminkan kesucian dan kebersihan sebagai bagian dari iman. Salah satunya adalah anjuran untuk mandi saat seorang kafir masuk Islam. Meskipun tidak diwajibkan secara mutlak, namun mandi ini tergolong sebagai mandi yang disunnahkan dalam Islam, berdasarkan petunjuk dari Rasulullah ﷺ dan praktik para sahabat.Anjuran mandi bagi orang kafir yang baru masuk Islam terdapat dalam beberapa hadis, di antaranya: Dari Qais bin ‘Ashim, ia berkata:
“Aku datang kepada Nabi ﷺ untuk masuk Islam, maka beliau menyuruhku untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. Abu Dawud no. 355, Tirmidzi no. 605). Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan orang yang baru masuk Islam untuk mandi sebagai bentuk penyucian diri secara lahiriah.
Kelima, Mandi Setelah Sadar dari Pingsan dan Salah satu aspek penting dalam ibadah adalah kebersihan dan kesucian (thaharah). Di antara bentuk kesucian tersebut adalah mandi, baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Salah satu mandi yang disunnahkan dalam Islam adalah mandi setelah sadar dari pingsan. Hal ini dilakukan untuk menyegarkan tubuh, menghilangkan kemungkinan hadas, serta sebagai bentuk kesiapan untuk kembali beribadah
Tidak terdapat perintah langsung dari Al-Qur’an atau hadis Nabi ﷺ yang mewajibkan mandi setelah pingsan. Namun, disunnahkannya mandi ini berdasarkan praktik langsung dari Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan dalam beberapa hadis shahih. Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها:“Rasulullah ﷺ ketika sakit, beliau pingsan, lalu sadar dan bertanya: ‘Apakah manusia telah shalat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, mereka menunggumu.’ Maka beliau pun mandi lalu shalat.”(HR. Bukhari no. 198) Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mandi setelah sadar dari pingsan, padahal beliau adalah orang yang sangat menjaga kesucian. Hal ini dipahami oleh para ulama sebagai anjuran (sunnah) bagi umatnya untuk melakukan hal yang sama.
Keenam, mandi saat ketika hendak melaksanakan ibadah haji dan haji adalah ibadah agung yang menjadi rukun Islam kelima. Dalam pelaksanaannya, haji menggabungkan unsur fisik, spiritual, dan sosial. Oleh karena itu, Islam mengajarkan berbagai adab dan sunnah untuk menyambut ibadah ini, salah satunya adalah anjuran untuk mandi ketika hendak melaksanakan rukun-rukun haji. Meskipun tidak wajib, mandi ini tergolong ke dalam mandi yang disunnahkan dalam Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat. Dan itu termasuk ketika Mandi Saat Akan Ihram, Mandi Sebelum Memasuki Kota Makkah, dan Mandi Sebelum Wukuf di Arafah.
