Pasal Ke-5
Beriman kepada Para Malaikat
Seorang muslim beriman kepada para malaikat Allah. Mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia dan para hamba di antara hamba-hamba-Nya yang dimuliakan. Allah telah menciptakan mereka dari cahaya, sebagaimana Allah juga telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. Allah telah mempercayakan kepada para malaikat beberapa tugas dan mereka senantiasa melaksanakan tugas-tugas tersebut. Di antara mereka ada yang bertugas menjaga para hamba, mencatat seluruh amalan hamba, menjaga surga berikut segala kenikmatannya, menjaga neraka berikut segala siksaannya, dan ada juga yang tugasnya bertasbih siang dan malam tanpa henti.
Allah ﷻ telah memuliakan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada para malaikat yang didekatkan oleh Allah kepada-Nya, seperti Jibril, Mikail, dan Israfil, dan di antara mereka juga ada yang tidak didekatkan kepada Allah. Keimanan seperti ini yang ada dalam diri seorang muslim, semata-mata karena hidayah dari Allah, kemudian berdasarkan dalil-dalil naqli dan aqli.

Dalil-Dalil Naqli
Pertama, perintah Allah ﷻ agar mengimani mereka dan pemberitahuan dari Allah mengenai mereka di dalam firman-Nya:
“Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Qs. An-Nisaa: 136)
“Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir.” (Qs. Al-Baqarah: 98)
Firman Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia:
“Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah).” (Qs. An-Nisaa: 172)
Firman Allah yang Mahabesar Kekuasaan-Nya :
“Pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy (singgasana) Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Qs. Al-Haqqah: 17)
Firman Allah yang Mahaagung hikmah-Nya:
“Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat.’ (Qs. Al-Muddatstsir: 31)
Firman Allah Yang Mahasuci nama-nama-Nya:
“Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu’.” (Qs. Ar-Ra’d: 23-24)
“Dan (ingatlah) кetika Rabbmu berfirman кepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. ‘Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (Qs. Al-Baqarah: 30)
Kedua, pemberitahuan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang mereka dengan sabdanya dalam doa beliau ketika sedang melaksanakan shalat malam:
“Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail, dan Israfil, yang menciptakan langit dan bumi, yang Maha Mengetahui perkara gaib dan nyata.
Engkaulah yang berhak menghakimi hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah кepadaku кebenaran yang diperselisihkan dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk bagi orang yang Engkau kehendaki кepada jalan yang lurus.’
“Langit mengeluarkan suara gemuruh dan merupakan haknya ia bergemuruh. Tiada satu tempat seukuran empat jari pun kecuali padanya terdapat malaikat yang sedang bersujud. ”
“Sesungguhnya, Baitul Makmur (dilangit) dalam setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak kembali.”
“Apabila telah tiba hari Jum’at, pada setiap pintu masjid adamalaikat yang mencatat orang yang paling awal masuk masjid kemudian orang-orang selanjutnya. Lalu ketika imam telah duduk (di atas mimbar), mereka mengakhiri pencatatannya lalu mendengarkan zikir (khutbah).”
“Adakalanya malaikat menemuiku dengan menjelma sesosok lelaki. Lalu ia berbicara kepadaku, dan aku hafal apa yang ia ucapkan.”
“Para malaikat di malam hari dan malaikat di siang hari saling bergantian datang menemui kalian.”
“Allah telah menciptakan malaikat dari cahaya, menciptakan jin dari nyala api tanpa asap, dan menciptaan Adam dengan sesuatu yang telah Allah jelaskan kepada kalian. ”
Ketiga, kesaksian banyak sahabat yang melihat kehadiran para malaikat pada waktu Perang Badar. Secara bersamaan, mereka melihat Jibril, yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu tidak hanya sekali saja. Sebab, adakalanya Jibril datang dalam wujud Dihyah Al-Kalbi, lalu para sahabat menyaksikannya. Di antara yang paling masyhur adalah hadits Umar bin Khattab dalam riwayat Muslim yang di dalamnya terdapat pertanyaan dari Rasulullah, “Tahukah kalian, siapa orang yang bertanya itu? “Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah bersabda, “Dia Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan agama kepada kalian.”
Keempat, keimanan jutaan orang mukmin, para pengikut rasul pada setiap waktu dan tempat terhadap para malaikat, dan pembenaran mereka terhadap apa-apa yang telah dikabarkan oleh para rasul mengenai malaikat tanpa ada keragu-raguan.
Dalil-Dalil Aqli
Pertama, akal tidak menganggap mustahil dan menolak akan keberadaan para malaikat. Sebab, akal tidak menganggap mustahil atau menolak kecuali terhadap dua perkara yang bertentangan, seperti keberadaan dan tidak adanya sesuatu pada waktu yang sama. Atau yang saling berlawanan, seperti, akal tidak menganggap mustahil dan menolak akan keberadaan para malaikat. Sebab, akal tidak menganggap mustahil atau menolak kecuali terhadap dua perkara yang bertentangan, seperti keberadaan dan tidak adanya sesuatu pada waktu yang sama. Atau yang saling berlawanan, seperti adanya kegelapan dan cahaya secara bersamaan. Sedangkan keimanan akan keberadaan para malaikat, selamanya tidak mengharuskan sesuatu pun dari semua itu.
Kedua, jika di antara yang diterima oleh orang berakal adalah bahwa adanya jejak sesuatu menunjukkan keberadaan sesuatu itu, maka para malaikat juga memiliki banyak jejak yang mengharuskan dan menegaskan akan keberadaannya. Di antara jejak-jejak tersebut adalah:
1. Sampainya wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Sebab, pada umumnya wahyu sampai kepada mereka melalui perantaraan Ruhul Amin, Jibril malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu. Hal ini merupakan jejak nyata yang tidak dapat diingkari dan menguatkan, serta menegaskan tentang keberadaan malaikat.
2. Wafatnya para makhluk dengan dicabutnya ruh mereka. Ini juga merupakan jejak nyata yang menunjukkan akan keberadaan malaikat maut dan pembantu-pembantunya. Allah Ta’aala berfirman, “Katakanlah, Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan кami’.” (Qs. As-Sajdah: 11)
3. Penjagaan terhadap manusia dari gangguan serta kejahatan jin dan setan, di sepanjang hidupnya. Manusia hidup di antara jin dan setan, yang mana keduanya bisa melihat manusia, tapi manusia tidak bisa melihat keduanya. Jin dan setan mampu menyakiti manusia, tapi manusia tidak mampu menyakiti keduanya. Atau bahkan dapat ditolaknya kejahatan jin dan setan, juga merupakan bukti adanya malaikat penjaga manusia yang akan selalu menjaga dan membela mereka. Allah Ta’ala berfirman,
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Qs. Ar-Ra’d: 11).
Ketiga, tidak bisanya melihat sesuatu karena sebab lemahnya pandangan atau tidak adanya persiapan sempurna untuk melihat sesuatu itu tidak dapat meniadakan keberadaan sesuatu tersebut. Sebab, ada banyak sekali materi- materi di alam nyata ini yang mata telanjang tidak mampu melihatnya. Akan tetapi, saat ini materi-materi tersebut dapat dilihat dengan sangat jelas, yaitu dengan menggunakan mikroskop atau lensa pembesar lainnya.
Keberadaan malaikat-malaikat Allah di sekitar manusia telah terbukti kebenarannya berdasarkan bukti-bukti di atas, baik bukti dari literatur (Al- Qur’an dan As-Sunnah) maupun bukti ilmiah yang mustahil dibantah. Dan mengimani mereka adalah sebuah kewajiban, meski kita tidak bisa melihat keberadaan mereka.
wallaahu a’lam
