Saya Belum Muslim, Tapi Nama Allah Sudah di Hati Saya | Kisah Mualaf I Wayan Arisana
Narasumber: I Wayan Arisana
Bertemu Islam Sejak Kecil
I Wayan Arisana, yang lahir di Jakarta pada tahun 80-an dari keluarga Hindu, menceritakan bahwa ia memeluk Islam pada tahun 2012. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan nuansa Islam karena rumahnya selalu berada dekat dengan masjid.
Meskipun sudah akrab, ia sempat jujur mengaku kurang menyukai orang muslim di awal, bukan karena ajaran Islamnya, melainkan karena menurutnya, banyak dari mereka yang kurang menerapkan ketaatan pada agama.
Titik Kritis: Kegoyahan Konsep Ketuhanan
Wayan mulai merasa goyah tentang konsep ketuhanan setelah ia melihat banyaknya film yang menayangkan dewa-dewa [05:04]. Ia mulai berpikir tentang bagaimana ciptaan bisa membayangkan sang Pencipta. Berbeda dengan ajaran Islam, yang ia anggap “luar biasa menarik” karena menyatakan Tuhan itu satu (Ahad).
Kegoyahan ini membawanya menjadi seorang agnostik pada tahun 2011, di mana ia meyakini adanya Tuhan tetapi belum berani memeluk Islam.
Kalimat “Allahu Akbar” dan Peringatan Keras
Momen terpenting dalam perjalanan hidayahnya terjadi di tahun 2011. Saat itu, setelah pulang kerja dan ingin beristirahat, ia mengalami kondisi fisik yang parah; seluruh tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdebar kencang, dan napasnya tersengal.
Dalam kondisi ketakutan yang luar biasa tersebut, ia spontan berteriak “Allahu Akbar”. Ia berkata dalam hati: “ya Tuhan kalaupun saya hari ini dipanggil nih setidaknya saya pernah nyebut nama satu Tuhan yaitu Allah tapi saat itu belum masuk Islam kan belum masuk Islam Pak…”
Saat itu, ia juga mendengar suara kecil di telinga kanannya yang seolah memberinya peringatan dan tantangan: “jika hari ini engkau aku ambil lalu apa yang akan engkau lakukan” Setelah diperiksa di rumah sakit, ia didiagnosis mengalami pembengkakan jantung. Dokter menyarankannya untuk menemui spesialis jantung.
Jawaban Doa: Restu yang Tak Terduga
Dalam kebingungannya, Wayan selalu berdoa dalam hati: “Ya Allah saya mau jadi makmuman Muhammad, tapi dengan satu syarat orang tua saya membolehkan”. Beberapa hari setelahnya, saat di dalam mobil, ayahnya berkata: “Ri Bapak tahu tuh kamu pasti bukan karena sakit jantung tuh… ya udah terserah kamu deh sekarang kamu mau apa bapak udah bingung gimana caranya mau nasihatin kamu… sekarang terserah kamu mau bagaimana” Kalimat ini, yang hanya “membolehkan”, adalah jawaban atas doanya.
Ia kemudian bertekad untuk bersyahadat. Ajaibnya, setelah ia rutin mengucapkan kalimat “Lailahaillallah” selama perjalanan ke kantor, hasil pemeriksaan USG jantung dua minggu kemudian menunjukkan jantungnya kembali normal dan pembengkakan itu hilang.
Ujian dan Keajaiban Setelah Mualaf
Proses Wayan masuk Islam sempat diuji, mulai dari kesulitan mencari saksi di KUA hingga persyaratan administrasi. Namun, Allah mengirimkan pertolongan melalui temannya, Pak Wim, yang bukan hanya bersedia menjadi saksi, tetapi juga membayarkan biaya administrasi Wayan.
Setelah bersyahadat, Wayan menjadi saksi atas keajaiban yang terjadi secara langsung: Perlindungan saat Salat: Ketika ia salat bersembunyi di kantor karena takut pada bosnya, ia mendengar kalimat: “salatlah saja engkau biar kiri kananmu yang menjagamu”. Teman-temannya yang mencari mengaku tidak melihatnya di ruangan tersebut.
Rezeki Umrah Gratis: Wayan ditelepon oleh travel yang menawarkannya berangkat umrah tanpa biaya, karena ia terdaftar sebagai jemaah dari travel yang batal. Ia berangkat tanpa mengeluarkan uang untuk visa, paspor, atau manasik, dan pulang membawa uang saku.
Mampu Membaca Al-Qur’an: Wayan mengaku tidak bisa membaca huruf hijaiyah saat umrah. Setelah berdoa saat sujud, ia mulai belajar sendiri dan tiba-tiba dapat membaca Al-Qur’an mushaf Utsmani dengan lancar.
