Hidayah Dan Ujian Cinta : Kisah Nur Aisyah, Mualaf dari Keluarga Pendeta yang Berhadapan dengan ‘Topeng Suami’
Kisah hijrah seorang mualaf seringkali diwarnai perjuangan. Namun, apa jadinya jika setelah menemukan jalan kebenaran, ujian terbesar justru datang dari seseorang yang seharusnya menjadi imam? Inilah kisah Nur Aisyah (nama lahir Ulnike), seorang wanita yang terlahir dan dibesarkan di tengah keluarga pendeta, yang perjalanan imannya diuji melalui pernikahan yang penuh dengan KDRT dan pengkhianatan.
Hidayah di Tengah Keluarga Pendeta
Nur Aisyah berasal dari Manado, lahir dan dibesarkan dalam keluarga pendeta. Ayah, ibu, dan kakak kandungnya semuanya berprofesi sebagai pendeta, menunjukkan ketaatan yang mendalam pada agama Kristen Protestan. Namun, almarhum ayahnya dikenal memiliki toleransi beragama yang sangat tinggi.
Sejak masa kecil, Nur Aisyah tinggal di lingkungan mayoritas Muslim. Hal ini membuatnya akrab dengan suara azan dan lantunan anak-anak mengaji dari madrasah dan masjid di dekat rumahnya. Ia mengaku sangat senang dan betah mendengarkan suara bedug dan azan setiap Magrib.
Titik balik teologis terjadi pada 2015, ketika ia berdiskusi dengan seorang Muslimah yang pintar mengaji. Diskusi tersebut membuatnya merenungkan ayat-ayat Alkitab dan menyadari kontradiksi dalam konsep ketuhanan Isa Almasih. Ia mempertanyakan, “Kalau dia adalah Allah itu sendiri, kenapa saat itu dia berdoa?”. Kebenaran ini meyakinkannya bahwa Islam adalah jalan yang benar.
Setelah melalui masa pertimbangan yang panjang, terutama rasa khawatir akan pandangan keluarga yang merupakan tokoh agama, Nur Aisyah akhirnya membulatkan tekad untuk memeluk Islam. Ia melakukan perjalanan mencari petunjuk ke Jogja dan Surabaya. Akhirnya, ia bersyahadat di Masjid Raya Bandung pada 2019, dengan pesan agar tidak dipublikasikan karena imannya saat itu masih ia rasa sangat minim.
Terperangkap Topeng Suami dan Ujian KDRT
Setelah menjadi mualaf, Nur Aisyah merasa keimanan dan ilmu agamanya masih perlu diisi. Karena khawatir dengan risiko masuk pesantren, ia memutuskan berdoa meminta seorang suami yang bisa menjadi imam dan membimbingnya belajar agama. Ia memilih calon suami yang secara ekonomi paling rendah, karena ia mengutamakan kebutuhan rohani.
Niat mulia tersebut ternyata berujung pahit. Setelah dua bulan menikah, suaminya mulai menunjukkan “monsternya”. Ujian pernikahan ini datang setelah ia memutuskan berhijab dan total dalam belajar agama. Suami yang dipilih karena tampak saleh ternyata hanya mengenakan topeng.
Pernikahan itu diwarnai KDRT yang parah, terjadi hampir setiap hari [00:00], hingga pada bulan Ramadan 2023, ia mengalami percobaan pembunuhan dengan pisau di lehernya. Ia juga dipukul, rambutnya dijambak, dan kepalanya dibenturkan ke tembok. Ia bahkan pernah digigit hingga berdarah di lengannya, bekasnya masih terlihat.
Dari ponsel suaminya, Nur Aisyah menemukan fakta bahwa mantan istri suaminya juga menjadi korban KDRT dan penganiayaan. Bahkan, mantan suaminya pernah memaksa berhubungan badan di samping anak gadisnya yang masih SMP [01:00:28]-[01:00:43]. Ia pun mengetahui bahwa keluarga suaminya memiliki latar belakang kriminal (kakak dan adik mantan suami pernah dipenjara).
Meskipun sempat menolak mencabut laporan polisi demi memberi kesempatan dan karena beban moral (khawatir aibnya akan merusak pandangan orang terhadap Islam), ia akhirnya bercerai pada Juni 2023 setelah hanya setahun menikah.
Meskipun menghadapi ujian yang berat, Nur Aisyah tidak pernah menyesal memeluk Islam. Baginya, tantangan dan rintangan yang dihadapi justru tidak menggoyahkan keimanannya, melainkan meningkatkan keimanannya. Ia meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya jalan menuju surga.
Saat mantan suami sibuk menyebarkan fitnah, Nur Aisyah justru sibuk mengurus Mualaf Center yang ia dirikan. Setelah memutuskan untuk tidak menikah lagi, ia hanya meminta kepada Allah untuk diberikan suami dengan syarat-syarat yang hampir mustahil di usianya
Di luar dugaan, semua doanya terkabul. Ia dipertemukan dengan seorang anggota TNI yang merupakan qari/muazin berprestasi dan anak seorang guru ngaji. Ia pun mendapat restu dari keluarga calon suami, meskipun telah dua kali gagal dalam pernikahan. Ia menegaskan, ini adalah bukti bahwa “kita cukup minta aja sama Allah”.
Pesan untuk para mualaf
Nur Aisyah menutup kisahnya dengan pesan mendalam: “Masalah itu datang karena Allah mencintai kita.” Segala kesulitan yang dialami adalah bagian dari kasih sayang Allah agar kita semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Pertolongan hanya datang dari Allah, dan manusia hanyalah fasilitas.
