Surabaya – Keberangkatan enam dai utusan Yayasan Baitul Maqdis menuju wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga hari ini masih tertunda akibat kondisi cuaca yang tidak kondusif. Rombongan sejatinya dijadwalkan berangkat pada 18 Februari lalu melalui jalur laut dari Surabaya menuju pelabuhan di wilayah NTT, dengan tujuan akhir Waingapu.

Penundaan terjadi karena gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda perairan, sehingga pihak otoritas pelayaran belum memberikan izin keberangkatan demi alasan keselamatan. Mengingat perjalanan ditempuh menggunakan kapal laut dengan rute Surabaya–Waingapu, faktor cuaca menjadi pertimbangan utama agar perjalanan tetap aman.
Enam dai yang diutus dalam program dakwah ini telah siap menjalankan amanah penugasan selama bulan Ramadhan. Dari jumlah tersebut, tiga orang akan ditempatkan di wilayah Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, sementara tiga dai lainnya akan bertugas di wilayah Sumba Tengah. Mereka dijadwalkan mengisi kegiatan sebagai imam shalat, penceramah Ramadhan, pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an, serta pendampingan keagamaan bagi masyarakat Muslim setempat.

Selama masa penantian di pelabuhan, para dai tetap menjaga semangat dan kesiapan. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, memperkuat koordinasi, serta mematangkan materi dakwah yang akan disampaikan di lokasi penugasan.
Pihak Yayasan Baitul Maqdis menyampaikan bahwa keselamatan para dai menjadi prioritas utama, sehingga keputusan menunggu hingga cuaca membaik adalah langkah yang harus diambil. Di sisi lain, dukungan dari kaum muslimin sangat diharapkan, baik dalam bentuk doa maupun bantuan moril dan materil, agar program pengiriman dai ke wilayah minoritas Muslim ini dapat terus berjalan dengan lancar.
Yayasan berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga para dai dapat diberangkatkan dan tiba di lokasi tugas dengan selamat, serta mampu menjalankan amanah dakwah demi menguatkan syiar Islam di pelosok negeri.
***
Mau berdonasi?
Salurkan ke Rekening BSI 7200 7100 15 an. Yayasan Baitul Maqdis
