Skip to content

Hukum Pidana Mencuri dan Merampok Menurut Al-Qur’an

hukum-islama. Pengertian

Pencurian adalah mengambil hak orang lain yang bukan miliknya secara diam-diam tanpa paksaan dan tidak di ketahui oleh pemiliknya. Adapun pengertian lain pencurian adalah mengambil harta orang lain secara diam-diam yang di ambil berupa harta, harta yang di ambil merupakan milik orang lain dan ada itikat tidak baik.

Sedangkan orang yang biasa melakukan pencurian adalah pencuri, Pencuri adalah orang yang mengambil harta atau benda orang lain dengan jalan diam – diam dan diambil dari tempat penyimpanannya.

Pencurian menurut Muhamad Syaltut adalah mengambil harta orang lain dengan sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh orang yang tidak dipercayai menjaga barang tersebut. Menurut beliau selanjutnya, definisi tersebut secara jelas mengeluarkan perbuatan menggelapkan harta orang lain yang dipercayakan kepadanya (ikhtilas) dari kategori pencurian. Oleh karena itu, penggelapan harta orang lain tidak dianggap sebagai jarimah pencurian dan tentu tidak dihukum dengan hukuman potong tangan, namun dalam bentuk hukuman lain. Di samping itu, definisi di atas mengeluarkan pengambilan harta orang lain dengan terang-terangan dan kategori pencurian, seperti pencopetan yang mengambil barang secara terang-terangan dan membawanya lari. Begitulah kesepakatan fuqaha.

H.A. Djazuli membedakan antara pencurian dengan penggelapan sebagai berikut:

Pertama, dilihat dari segi hukuman. Pencurian dikenai hukuman had potong tangan, sedangkan penggelapan dikenai hukuman ta’zir dan hal ini tentu menjadi wewenang hakim dalam penjatuhan hukuman tersebut.

Kedua, dilihat dengan dari segi pelaksanaan pengambilan harta tersebut. Pada pencurian, pengambilan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Sedangkan pada kasus penggelapan dilakukan dengan terang-terangan. Dalam hal ini si pemilik mengira harta tersebut masih ada dan dijaga oleh orang yang dipercayainya. Oleh karena itu, kalau penjaganya, mengambilnya, dianggap telah berbuat terang-terangan.

Ketiga, dilihat dari segi objek harta tersebut. Dalam pencurian, harta yang diambil tersimpan pada tempat tertentu yang memeng sengaja disimpan pemiliknya. Sedangkan penggelapan, penyimpanan harta tersebut tidak diketahui pemiliknya dan hanya diketahui oleh yang dipercayai, sedangkan pemilik hanya mengetahui bahwa harta itu ada. Oleh karena itu, persyaratan tempat pada kasus penggelapan tidak disyaratkan.

Keempat, dilihat dari ukuran harta. Pada pencurian dikenal ukuran-ukuran tertentu yang mengakibatkan jatuhnya hukuman had atau yang dikenal dengan teram nishab. Adapun pada kasus penggelapan dikenal ukuran-ukuran tertentu sejauh mana penggelapan tersebut harus dikenal hukuman.

b. Unsur – unsur Pencurian
Adapun unsur-unsur pencurian mengacu pada definisi pencurian itu sendiri. Dari definisi tersebut, dapat kita rinci unsur-unsur sebagai berikut:

Pertama, pengambilan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti telah disinggung, tidak termasuk jarimah pencurian kalau hal itu dilakukan dengan sepengetahuan pemilikny.

Kedua, yang dicuri itu harus berupa harta kongkret sehingga barang yang dicuri adalah barang yang bergerak, dipindah-pindahkan, tersimpan oleh pemiliknya pada penyimpanan yang layak dan dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Tentu ada batasan (kadar) yang menyebabkan jatuhnya had.

Ketiga, harta yang dicuri adalah sesuatu yang berharga, setidaknya menurut versi pemiliknya. Inilah yang menjadi dasar pertimbangan bukan atas pandangan si pencuri. Karena menganggap berharga, pemilik barang menyimpang ditempat tertentu, yang aman menurut anggapannya. Oleh karena itu, mengambil atau memindahkan barang atau harta yang tidak mempunyai tempat penyimpanan tertentu menjadi alasan kesubhatan bagi jarimah ini, seperti mengambil barang yang ditemukan ditengah jalan,.
Keempat, harta diambil (dicuri) pada waktu pemindahan adalah harta orang lain secara murni dan orang yang mengambilnya tidak mempunyai hak pemilikan sedikit pun terhadap harta tersebut. Umpamanya, harta kelompok atau harta bersama orang yang mencurinya mempunyai hak atau bagian dari harta tersebut. Oleh karena itu, kalau dia mengambil sebagian- walaupun dinilai melewati nishab- tidak dianggap sebagai jarimah pencurian sebab hak dia yang melekat pada barang yang diambil menjadikan kesyubhatan. Namun, hal ini pun bukan berarti dia tidak dihukum sekalipun tidak dikenai hukuman had potong tangan. Dimaksud dengan orang lain, juga apabila harta itu milik anaknya atau milik bapaknya.

Kelima, seperti pada jarimah-jarimah lain, terdapatnya unsur kesengajaan untuk memiliki barang tersebut atau ada itikad jahat pelakunya. Oleh karena itu, seandainya barang atau harta itu terbawa tanpa disengaja, sekalipun dalam jumlah besar dan mencapai nishb, tidak dianggap sebagai jarimah pencurian, paling-paling dianggap sebagai kelalaian dan hukumannya hanya peringatan sebagai kehati-hatian.

Baca Juga  Wanita Mulia Dengan Jilbab Syar'ie

c. Sanksi Hukuman
Hukuman mencuri dikenakan pada kejahatan pencurian, apabila perbuatan tersebut dilakukan menurut syarat-syarat yang telah disebutkan diatas, yaitu syarat-syarat yang terdapat pada diri si pencuri, barang yang dicuri dan perbuatan mencuri itu sendiri, maka fuqaha telah sependapat bahwa hukuman yang telah dikenakan padanya adalah potong tangan, karena perbuatan tersebut merupakan tindakan kejahatan. Dalam hubungan ini Allah berfirman dalam Al-qura’an surat Al-Maid’ah. ayat 38:
“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Ma’idah :38).

Ayat ini bahwa mengisyaratkan bahwa hukum potong tangan tidak dapat diganti dengan hukuman lain yang lebih ringan, begitu pula hukuman tersebut tidak boleh ditunda. Dipihak lain fukaha berselisih pendapat tentang penggabungan dalam penggantian harta dengan hukuman potong tangan.

d. Kadar dan Batasan Pencurian
Mengenai hukuman yang menyebabkan dijatuhkannya hukum potong, terjadi perbedaan diantara ulama. Hal tersebut disebabkan keumuman ayat 83 surat Al-Ma’idah. Diantara ulama, ada yang meniadakan nishab pencurian,artinya sedikit apalagi banyak, sama-sama dihukum potong tangan. Adapun jumhur fuqaha mensyaratkan adanya nishb (bantas tertentu) sehingga seorang pencuri dapat dikenai hukuman potong tangan. Namun, ini pun terdapat perbedaan tentang batasan atau nishab tersebut Imam Syafi’I dan Maliki mengatakan seperempat dinar, sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan sepuluh dirham atau satu dinar, bersabda Nabi Muhamad:

“Tidaklah dipotong tangan pencuri, kecuali pada satu dinar atau sepuluh dirham.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Di samping itu, ada yang mengatakan (seperti Ibnu Rusyid) batasan tersebut adalah empat dinar, seperti hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim, melalui perawi Aisyah:
“Janganlah dipotong tangan pencuri, kecuali pada empat dianar atau lebih.” (H.R.Bukhari dan Muslim).

e. Dasar hukum
Jarimah tentang pencurian diatur dalam QS Al-Maidah: 38 yang mengajarkan ”Pencuri laki-laki dan perempuan hendaklah kamu potong tangan mereka sebagai balasan atas perbuatan mereka dan merupakan hukuman pengajaran dari Allah Yang Mahakuasa dan bijaksana.” Dan hadis Nabi pun mengajarkan bahwa “Batas pemotongan tangan adalah pada pergelangan tangan dan pada tangan kanan.”

Hukuman

Mengenai hukuman pencurian para ulama berbeda pendapat.

Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’I berpendapat bahwa “Pada pencurian pertama yang di potong adalah tangan kanan, pada pencurian yang kedua kaki kiri, yang ketiga tangan kiri dan pada pencurian yang keempat kaki kanan.jika pencuri masih melakukan pencurian maka yang kelima kalinya di hukum penjara sampai ia bertaubat”

Adapun menurut pendapat “Atha, pencurian yang pertama di potong tangannya. Yang kedua di beri hukuman ta’zir.

Menurut Zhahiri bawa pada pencurian pertama di potong tangan kananya. Pada pencurian kedua di potong tangan kirinya dan pada pencurian ketiga dikenakan hukuman ta’zir.

Menurut Imam Abu Hanifa, pada pencurian pertama di potong tangannya kanannya,pencurian kedua di potong kaki kirinya dan yang ketiga di penjara sampai tobat.

Syarat hukuman potong tangan atas adalah :

1. Pencurinya telah baligh, berakal sehat dan ikhtiyar.
Dengan demikian anak-anak dibawah umur yang melakukan pencurian tidak memenuhi syarat hukuman potong tangan, tetapi walinya dapat dituntut untuk mengganti harga harta yang dicuri anak tersebut. Dibawah perwaliannya si-anak dapat diberi pelajaran seperlunya. Orang gila yang mencuri juga tidak dapat dijatuhi hukuman potong tangan demikian juga orang dewasa sehat akal yang melakukan pencurian atas dasar desakan ataupun daya paksa tidak dapat dijatuhi hukuman potong tangan.
Khalifah Umar bin Khaththab pernah tidak melaksanakan hukuman potong tangan terhadap pencuri unta pada saat terjadi wabah kelaparan (paceklik) karena dirasakan adanya unsur keterpaksaan disana. Pencuri yang demikian itu jika akan dijatuhi hukuman hanya dapat berupa hukuman ta’zir, atau dapat dibebaskan sama sekali, bergantung pada pertimbangan hakim. Dapat ditambahkan bahwa keadaan memaksa ini dapat terjadi juga dalam masyarakat yang keadaan sosialnya belum terlaksana dengan baik. misalnya, dalam masyarakat yang jurang pemisah antara dua golongan itu amat dalam. Di satu pihak terdapat orang kaya yang membelanjakan hartanya dengan cara bermewah-mewah. Dilain pihak terdapat kaum miskin yang untuk memperoleh pekerjaan saja amatlah susah.

Baca Juga  Wanita Mulia Dengan Jilbab Syar'ie

2. Pencuri benar-benar mengambil harta orang yang tidak ada syubhat milik bagi orang tersebut.

Dengan demikian, jika seorang anggota suatu perseroan dagang mencuri harta milik perseorannya, ia tidak dijatuhi hukuman potong tangan karena ia adalah orang yang ikut memiliki harta perseroan yang dicurinya. Tetapi tidak berarti si-pencuri tersebut bebas dari ancaman pidana sama sekali. Karena si-pencuri tersebut terkena pidana ta’zir.

3. Pencuri mengambil harta dari tempat simpanan yang semestinya, sesuai dengan harta yang dicuri.
Dengan demikian, orang yang mencuri buah dipohon yang tidak dipagar tidak memenuhi syarat hukuman potong tangan. Orang yang mencuri sepeda di halaman rumah pada malam hari juga tidak dapat dijatuhi hukuman potong tangan. Tapi si-pencuri tersebut terkena pidana ta’zir
Lain halnya bila ada pencuri sapi dikandang diluar rumah memenuhi syarat dijatuhi hukuman potong tangan. Sebab sapi memang tidak pernah dikandangkan didalam rumah.

4. Harta yang dicuri memenuhi nisab.
Nisab harta curian yang dapat mengakibatkan hukuman potong tangan ialah seperempaat dinar (seharga emas 1,62 gram). dengan demikian, pencurian harta yang tidak mencapai nisab hanya dapat dijatuhi hukuman ta’zir. Nisab harta curian itu dapat dipikirkan kembali, disesuaikan dengan keadaan ekonomi suatu waktu dan tempat. Keadaan ekonomi pada masa Nabi, harta seharga seperempat dinar itu sudah cukup besar. Meskipun dapat pula dipahamkan bahwa kecenderunan untuk menetapkan nisab harta curian dalam jumlah amat kecil itu dimaksudkan untuk menghilangkan kejahatan pencurian yang amat merugikan ketenteraman masyarakat. karena jangan sampai hak milik seseorang tidak dilindungi keselamatannya.

B. Jarimah Hirobah

a. Pengertian
Menurut Imam Syafi’i, hirabah adalah keluar untuk mengambil harta, atau membunuh atau menakut-nakuti dengan cara kekerasan dengan berpegang kepada kekuatan dan jauh dari pertolongan atau bantuan. Sedangkan menurut ulama Hanafiah hirobah adalah keluar untuk mengambil harta dengan jalan kekerasan yang realisasinya menakut-nakuti orang yang lewat di jalan, atau mengambil jalan, atau membunuh orang.
Perbedaan yang mendasar antara pencurian dan pembegalan/perampokan terletak pada cara pengambilan harta, yakni dalam pencurian secara diam-diam sedangkan dalam perampokan secara terang-terangan dan kekerasan.

Teknis operasional perampokan ada beberapa kemungkinan, yaitu :

1. Seorang pergi dengan niat untuk mengambil harta secara terang-terangan dan mengadakan intimidasi, namun ia tidak jadi mengambil harta dan tidak membunuh.
2. Seorang berangkat dengan niat untuk mengambil harta dengan terang-terangan dan kemudian mengambil harta termaksud tapi tidak membunuh.
3. Seorang berangkat dengan niat merampok, kemudian membunuh tapi tidak mengambil harta korban.
4. Seorang berangkat untuk merampok lalu ia mengambil harta dan membunuh pemiliknya.

Keempat kemungkinan diatas semuanya termasuk perampokan selama yang bersangkutan berniat untuk mengambil harta dengan terang-terangan.
Dasar hukum hirobah adalah firman Allah SWT :

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya membuat keruksakan di muka bumi, hanyalah mereka di bunuh atau disalin, atau dipotong tangan dan kaki merekasecara bersilang atau di buang dari negeri (kediamannya). Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat yang besar”. (QS al-Maidah : 33)

Atas dasar ini para ulama mensyaratkan pada seorang perampok harus mempunyai kekuatan fisik untuk memaksa. Apabila perampok terdiri dari segerombolan manusia, maka seluruh mereka dianggap sebagai perampok selama masing-masing melaksanakan perbuatan langsung atau sebab.
Adapun syarat harta yang diambil dalam perampokan sama dengan syarat harta yang diambil dalam pencurian.
b. Unsur-Unsur Hirobah
Dari definisi yang dikemukakan sebelumnya dapat diketahui bahwa unsur-unsur hirobah sebagai berikut :

1. Pengambilannya secara terang-terangan.
2. Barang yang diambil berupa harta.
3. Harta tersebut milik orang lain.
4. Pengambilannya dilakukan dengan cara kekerasan atau dengan membunuh korbannya.

5. Bisa dilakukan di rumah seseorang, tempat keramaian atau mencegat orang yang sedang lewat di jalan.

c. Pembuktian Perampokan
Pembuktian perampokan bisa dengan saksi, yaitu dua orang saksi laki-laki dan bisa juga dengan pengakuan.

Baca Juga  Wanita Mulia Dengan Jilbab Syar'ie

d. Sanksi Hirobah
Sanksi bagi pelaku jarimah hirobah di sesuaikan dengan teknis oprasionalnya sebagiamana diterangkan di atas terbagi menjadi empat :

1. seseorang pergi dengan niat untuk mengambil harta secara terang-terangan dan memaksa, namun ia tidak jadi mengambil harta dan tidak membunuh. Dalam hal ini pelaku hanya menakut-nakuti korban, dan hukumannya pengasingan (an nafyu)

2. mengambil harta tanpa membunuh. Dalam hal ini menurut Imam Abu Hanifah, Syafii, Imam Ahmad hukumannya adalah potong tangan dan kaki dengan bersilang, yaitu dipotong tangan kanan dan kaki kirirnya. Mereka beralasan dengan firman Allah surat al maidah 33.

3. Membunuh tanpa mengambil harta. Menurut Abu Hanifah, Imam Syafii, dan satu riwayat dari Imam Ahmad hukumannya adalah dibunuh (hukuman mati) sebagai hukuman had tanpa disalib. Sementara menurut riwayat yang lain dari imam ahmad dan salah satu pendapat syiah zaidiah disamping hukuman mati, pelaku juga disalib.

4. Membunuh dan mengambil harta dalam hal ini menurut imam Syafii, Imam Ahmad, Syiah Zaidiah, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad dari kelompok hanafiah, hukumannya adalah dibunuh (hukuman mati) dan disalib tanpa dipotong tangan dan kaki.

e. Hapusnya Hukuman

Hukuman perampokan dapat dihapus karena sebab-sebab sama seperti kasus pencurian dan karena tobat sebelum ditangkap. Diantara yang dapat menghapus eksekusi itu adalah:

1. Terbukti bahwa dua orang saksi itu dusta
2. Pencuri menarik kembali pengakuannya
3. Mengembalikan harta yang dicuri sebelum kepengadilan
4. Dimilikinya harta yang dicuri itu dengan sah oleh pencuri sebelum diajukan ke pengadilan.

Pendapat di atas semua menurut Imam Abu Hanifah, sedangkan menurut Imam Malik, mengembalikan harta yang dicuri itu tidak menyebabkan hapusnya eksekusi. sebab ancaman had itu terwujud ketika terjadinya pengembalian harta.

Dalam hal pengembalian harta pencurian sebelum disidangkan dan terbuktinya hak milik sah bagi pencuri atas harta sebelumnya ada keputusan hakim, perlu dipertimbangkan lebih lanjut. Konsep syubhat yang berdasarkan hadits :

“Hindarkanlah had, bila ada syubhat” ( HR al-Baihaqi )
Artinya, alternatif hukuman adalah hukum ta’zir.

Dasar hukumnya adalah fiman Allah SWT :

“Kecuali orang-orang yang bertobat (diantara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka, maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs al-Maidah:34).

Akan tetapi, hukuman yang dapat hapus adalah hukuman yang berkaitan dengan hirobahnya, bukan hukuman yang berkaitan dengan pelanggaran atas hak hamba, seperti pembunuhan dan pengambilan harta.

Bila perampoknya tobat setelah di tangkap, maka tobatnya tidak dapat menghapuskan hukuman yang berkaitan dengan hak Allah maupun yamg berkaitan dengan hak hamba. Hal ini disebabkan karena:

a. Tobat sebelum ditangkap itu adalah tobat yang ikhlas, yakni muncul dari hati nurani untuk menjadi orang yang benar. Sedangkan tobat setelah ditangkap pada umumnya takut terhadap ancaman hukuman yang akan dikenakan padanya.

b. Tobat sebelum ditangkap muncul karena kecendrungan perampok itu untuk meninggalkan perbuatan yang membawa kerusakan dimuka bumi, sedangkan tobat setelah ditangkap prinsip kecendrungan ini tidak tampak karena tak ada kesempatan lagi baginya untuk mengubah atau melestarikan tingkah laku jahatnya.

Perampok dianggap telah bertobat bilamana ia datang kepada imam dengan segala keihklasan dan keta;atan sebelum ditangkap.

Apabila selain merampok ia juga minum khamar dan atau mencuri, maka hukuman kedua tindak pidana yang terakhir ini tak dapat hapus karena tobatnya , demikian juga menurut imam Malik ia beralasan bahwa ayat-ayat yang mengancam pezinah dan pencuri itu bersifat umum, yakni baik bertobat atau tidak, dan juga berdasarkan kasus Ma’iz dan Ghamidiyyah yang datang kepada Nabi tapi dijatuhi hukuman. Sehubungan dengan itu Rasulullah Saw bersabda :

“Ia telah bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya dan seaandainya tobatnya itu dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk madinah, niscaya seluruh penduduk madinah itu akan mendapatkannya”. (H.R Muslim dari Imran bin Husein).

Hukuman yang diterapkan diindonesia dalam hal tobat ini, selain tindak pidana perampokan, mirip dengan pendapat Imam Malik dan pendapat yang rajih.

Artikel Terkait