Skip to content

Peter Casey : Mengapa Tidak Ada Muslim Yang Menerangkan Islam Itu Apa?

mualaf-ini-tak-pernah-sungkan-salat-di-keramaian-140522h
Potret Mualaf AS: Salat di Depan Starbucks

 

Seperti anak muda kebanyakan di Amerika Serikat, Peter Casey tak pernah ‘alergi’ dengan segala tren terbaru. Casey seorang mualaf. Dia pun berganti nama menjadi Abdulmalik.

Sebagai seorang mualaf dia selalu membaur dan berinteraksi dengan siapa saja, tanpa malu menyembunyikan identitas keislamannya.

Dia selalu pergi ke masjid setiap hari dengan ‘menumpang’ skateboard –gaya khas anak muda AS. Tak pernah terfikir olehnya melakukan ibadah salat di kedai kopi Starbucks, kecuali 2 kali pernah dilakukannya saat kebetulan tengah ‘nongkrong’ di sana dan waktu salat tiba.

Lulusan Queen College berusia 23 tahun ini melakukan hal-hal tersebut sebagai upayanya untuk menghapus pandangan miring dan kesalahpahaman orang terhadap Islam.

peter-casey mualaf amerika

 

Tragedi 11 September 2001 menjadi awal Casey mulai tertarik mengenal Islam. Ia yang waktu itu masih 13 tahun mulai menemukan kesadaran akan pentingnya agama. Casey mulai bisa melihat Islam secara utuh, sehingga akhirnya tertarik untuk mempelajarinya.

Dua tahun kemudian, pada usia 15 tahun, Casey memutuskan untuk masuk Islam. Sejak itu, ia berupaya menghilangkan stigma buruk keyakinan barunya itu dari masyarakat Amerika yang selalu curiga dengan Islam.

Potret Mualaf AS: Salat di Depan Starbucks

Salah satunya memalui channel video Dawah Addict di Youtube yang berisi topik bagaimana menjadi muslim. “Ketika saya pertama kali menjadi muslim, banyak orang-orang berkata, ‘Mengapa tidak ada lagi muslim mengatakan terorisme adalah buruk? Mengapa tidak ada Muslim di luar sana menerangkan apa Islam itu?’,” kata Casey.

“Dan saya pikir, saya akan melakukannya jika tidak ada orang lain yang mau melakukannya”.

Casey ingin berbagi tentang apa yang membuatnya sangat bahagia dan telah membawa begitu banyak kedamaiannya. “Saya merasa seperti punya utang kepada masyarakat Amerika,” ujarnya. (Ism, Sumber: New York Times)

Artikel Terkait