Skip to content

Allahu Akbar !! Jadi Muallaf, Wanita Ini Dipaksa Makan Babi Hingga Diperkosa, Dan Banyak Lagi Cobaan Keimanan Yang Dialaminya

kisah muallaf

BaitulMaqdis.Com – Berbahagialah kita yang dilahirkan dalam keluarga Muslim, karena bisa berislam dengan khusyuk dan merdeka tanpa gangguan apapun. Tidak halnya dengan perjuangan iman Indah Hutabarat (Nurul Hidayati) ini. Keputusannya masuk Islam disusul badai ujian yang bertubi-tubi: fitnah, gangguan, pengasingan, intimidasi, penculikan, penodaan kehormatan, dan sebagainya. Setitik pun ia tak pernah menyesali keputusan hijrah memeluk Islam. Ditempa berbagai ujian dan musibah iman dan Islamnya makin kuat, sang muallaf kini berhijab sempurna dengan niqabnya, namun perlu solidaritas sesama Muslim.

GADIS Batak ini dilahirkan 26 tahun silam di Simalungun, Sumatera Utara. Ia dibesarkan dalam keluarga besar Kristen Protestan yang taat dan digadang-gadang menjadi aktivis Kristen. Sejak berusia dua tahun, ia diasuh oleh pamannya, seorang pengurus gereja Batak di Dumai. Sang paman yang dianggap sebagai ayah angkat ini menjabat sebagai Sintua di gereja ini.

Meski dibesarkan di lingkungan fanatik Protestan, tapi di sekolah Indah banyak bergaul dengan teman-teman Muslim. Dari sinilah perjuangan ‘mencari Tuhan’ bermula. Perjalanan mengenal Islam mulai tumbuh sejak kelas 3 SD. Secara sembunyi-sembunyi, ia sering ikut teman-temannya belajar di Madrasah. Namun ia harus berhenti ke madrasah setelah ketahuan dan mendapat marah besar dari sang paman.

“Saya menyukai Islam sejak kelas 3 SD. Sejak tiga tahun itu saya juga suka mengikuti teman-teman saya ke Madrasah, tapi secara diam-diam. Walaupun seiring waktu akhirnya ketahuan juga sama paman,” ujarnya kepada Relawan IDC di kontrakannya, Sabtu lalu.
Menginjak remaja, di bangku SMP ia nekad bergaul dengan teman-temannya yang Muslim. Ia ingin belajar banyak tentang Islam kepada teman-teman Muslimnya. Namun ia kembali ketahuan keluarga sehingga mendapat sanksi dipindahkan sekolah.
“Di SMP saya punya teman akrab tiga orang Muslim. Kepada merekalah saya suka bertanya-tanya soal Islam. Paman saya sempat mengetahui hal itu, sehingga saya dipindahkan ke Dumai selama setahun,” tuturnya.

Setelah diungsikan setahun, ia dipulangkan kembali ke sekolah yang lama di Bengkalis, tapi diwajibkan mengikuti kelas Marguru Malua, yaitu program katekisasi gereja Batak untuk pendalaman doktrin Kristen. Beberapa doktrin Lutheran yang wajib dihafal dalam Kathekismus gereja tersebut antara lain: Patik ni Debata (Sepuluh Firman), Hata Haporseaon (Pengakuan Iman Rasuli), Tangiang Ale Amanami (Doa Bapa Kami), Pandidion Na Badia (Baptisan Kudus), Hasesaan Ni Dosa (Pengakuan Dosa) dan Ulaon Na Badia (Perjamuan Kudus).

Anehnya, semakin dipaksa untuk mengikuti kegiatan gereja secara rutin, ia justru semakin tidak nyaman hidup dalam iman kristiani. Semakin memperdalam Alkitab (Bibel), justru semakin banyak pertanyaan yang mengusik benaknya. Ia semakin merasakan keganjilan dengan imannya.

“Semakin memperdalam Alkitab justru semakin membuat saya ragu selama tiga tahun saya belajar Alkitab,” paparnya.
Persoalan pelik yang sulit dipecahkannya dalam studi di gereja adalah doktrin Ketuhanan Yesus. Menurutnya, semasa hidupnya Yesus belum pernah mengajarkan dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah dan diibadahi. Tak satu pun ayat Alkitab yang mencatat Yesus bersabda: “Wahai manusia, aku adalah Allah Tuhan pencipta alam semesta. Karena itu beribadahlah kepadaku dan sembahlah aku.”
“Orang-orang Kristen itu fokus tentang masalah ketuhanan itu di Perjanjian Baru, di saat kemunculan Yesus yang dikatakan sebagai Tuhan. Kalau memang sejak awal Yesus itu Tuhan kenapa tidak diceritakan sejak Perjanjian Lama? Di sisi lain sebenarnya dalam Perjanjian Baru pun Yesus tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Tuhan,” bebernya.

Justru Yesus mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang benar, dan Yesus bukanlah Tuhan melainkan utusan Allah (Yohanes 17:3). Ia berdakwah mengajak para pengikutnya untuk bersama-sama menyembah Allah, Tuhan Yang EsA:
“Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa” (Markus 12:29).
Seluruh ajaran dan teladan Yesus dalam Alkitab adalah bertuhan kepada Allah.

Dalam Injil Matius 11:25 Yesus bersyukur kepada Allah. Yesus juga berdoa kepada Allah (Lukas 6:12) dan minta keselamatan kepada Allah (Yohanes 12:27). Ajaran Yesus ini sejalan dengan ajaran Perjanjian Lama, bahwa Tuhan dan Juru Selamat itu hanyalah Allah, tidak ada yang lain:

“Demikianlah firman Tuhan… Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juru selamat selain daripada-Ku” (Yesaya 43:10-11).

Sebagai remaja yang cerdas, dengan berani ia bertanya kritis tentang doktrin Ketuhanan Yesus kepada pendeta pembimbing katekisasi di Gereja. Salah satu pertanyaan yang membuatnya dihukum adalah persoalan ketuhanan Yesus dalam Injil Matius 27:46: “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Menurut ayat ini, ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya di tiang salib, Yesus berteriak-teriak memanggil Allah. Logikanya tidak bisa menerima doktrin ketuhanan Yesus berdasarkan ayat ini. Karena jika Yesus itu tuhan, lantas mengapa ia memanggil tuhan? Berarti Yesus bukan tuhan karena bertuhan kepada Allah.

“Sampai saat ujian pun saya pertanyakan kepada pak pendeta, termasuk ada yang ditangkan dari Jakarta. Dalam empat Injil, baik Matius, Markus, Lukas, maupun Yohanes saya baca bolak-balik tidak ada pengakuan dari Yesus bahwa dirinya adalah Tuhan. Saya tanyakan, kalau memang Yesus itu Tuhan, kenapa ketika disalib Yesus justru meminta tolong kepada Tuhan, “Eli, Eli, lama sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” paparnya.

Baca Juga  HUKUM BERQURBAN DI DAERAH

Buntut dari pertanyaan kritis itu, Indah menerima hukuman fisik dipukul dan dikurung, karena dianggap sudah melebihi batas iman. “Pak pendeta itu mengadu kepada paman saya dan saya dipukulnya, sempat dikurung,” ungkapnya.

kisah Muallaf diintimidasi
Foto Muallaf Nurul Hutabarat

KABUR DARI RUMAH DEMI MEMELUK ISLAM

Di bangku SMA ia banyak berinteraksi, bertanya dan belajar kepada guru-guru yang beragama Islam. Keyakinannya kepada kebenaran Islam pun terus bertumbuh. Menginjak kelas 2 SMA, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat.

“Kepada ibu guru di SMA saya banyak tanya tentang Islam, apa itu Islam, mengapa kita harus menutup aurat dan lain-lain. Lalu ketika saya duduk di kelas 2 SMA, barulah saya berani meyakinkan diri bahwa Islam itu adalah agama yang benar,” ucapnya.
Ia sudah membayangkan bahwa pilihan hijrah memeluk agama Islam akan menyulitkan posisinya untuk bersatu dengan keluarga besarnya yang Kristen fanatik. Terbayang di matanya betapa besar resiko dan tekanan keluarga yang akan dihadapinya.

Dengan dorongan iman yang meluap-luap tak tertahankan, tak pikir panjang lagi ia nekat melarikan diri dari rumah demi mempertahankan Islam. Namun rencananya terendus keluarga. Usahanya gagal setelah travel yang dinaikinya dicegat di tengah jalan oleh pihak keluarga.

“Paman saya bersama beberapa orang mencari saya. Ketika saya sudah naik travel menuju Dumai dicegat di tengah jalan. Saya pun dipaksa keluar dan dipulangkan kembali ke rumah,” tuturnya.

Berita kabur dari rumah yang gagal tersebut tersebar juga ke sekolah dan membuat heboh. Akhirnya ia dipanggil guru agama Islam yang juga menjabat sebagai guru BP guna memberikan nasihat tentang resiko dan konsekuensi masuk Islam.

MENJADI MUALLAF, UJIAN DATANG SILIH BERGANTI

Ia semakin menyadari resiko pilihan hidupnya. Namun tekadnya sudah bulat, tantangan di depan mata tidak menggoyahan keyakinannya untuk memeluk Islam.

Ia terus mencari cara untuk lari dari rumah, supaya kegagalan lari dari rumah sebelumnya tidak terulang lagi. Ia minta tolong kepada teman-temannya untuk membawa tas kosong supaya saya bisa menitipkan surat-surat penting, ijazah, akte kelahiran dan lain-lain. Setelah baju-baju dan surat-surat itu dikumpulkan ia pun keluar dari rumah itu. Malam itu saya menginap di rumah ibu guru Bahasa Inggrisnya. Pagi harinya diantarkan ke sebuah masjid untuk prosesi pengislaman.

Momen bersejarah dalam hidupnya pun terjadi tanggal 31 Mei 2005. Bakda zuhur ia lahir baru menjadi Muslimah dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Mukaromah, dengan diberi nama hijrah Nurul Hidayati.
Usai prosesi, ia pulang ke rumah ibu guru Bahasa Inggrisnya yang kini dianggap sebagai ayah angkat barunya.

Tak disangka, berawal dari kebahagiaan sebagai muallaf itulah ujian Allah datang bertubi-tubi. Prosesi pensyahadatan itu ternyata diumumkan secara terbuka di masjid dan beritanya tersebar dari mulut ke mulut, sehingga informasinya sampai kepada keluarga. Nurul pun diseret paksa untuk dipulangkan ke rumah keluarga besarnya di Siantar, Sumatera Utara. Nurul pun dibaptis ulang di gereja setempat.

“Ayah angkat saya bersama pihak gereja menggeruduk rumah ibu guru Bahasa Inggris saya. Lalu saya diseret paksa dari kamar. Saya pun dipulangkan ke Siantar. Ibu, nenek dan keluarga saya pun kaget dengan keislaman saya. Di sana keluarga besar Hutabarat dan Marpaung memperisiapkan upacara untuk membaptis saya,” paparnya.

Peristiwa ini sangat tidak diinginkan Nurul, karena pantang kembali murtad setelah masuk Islam. Ia tidak mau berbelot murtad seperti ibarat kitab suci, “Seperti anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”
Alhamdulillah, pertolongan Allah datang melalui nenek yang sangat menyayangi cucunya. Hatinya luluh mendengar kisah perjuangan cucunya, meski sudah berbeda iman.

“Saya berupaya membujuk opung sampai akhirnya beliau mau mengantarkan saya pergi naik bis dan memberikan ongkos. Saya pun kembali ke Riau, pihak Muslim di sana meminta perlindungan dari aparat. Alhamdulillah selama setahun tidak terjadi apa-apa,” ungkapnya.

DICULIK DAN DILUCUTI JILBABNYA

Tahun berikutnya, pada akhir tahun 2006 ujian kembali datang menerpa. Dengan biadab, segerombolan orang mengendarai motor menculiknya usai pulang dari sebuah les. Ia disekap beberapa hari, jilbabnya pun dilucuti. Pihak keluarga besarnya yang Kristen diduga terlibat dalam upaya penculikan ini.

“Waktu itu saya tinggal di rumah guru SMA yang menjadi ayah angkat saya. Habis magrib saya pulang dari les berjalan kaki. Ada satu kendaraan motor dengan dua orang ngikutin saya dari belakang. Tiba-tiba mereka langsung menyergap saya, saya pingsan tak sadarkan diri. Waktu sadar itu sudah berada di satu ruangan sebuah gubuk, kondisinya sudah malam, jilbab saya sudah dilepas,” tuturnya.

Dalam keadaan setengah sadar Nurul akan dibawa pergi menggunakan motor. Beruntung, ia bisa kabur dengan cara melawan para penculik itu dengan menghajar kepala sang pengendara motor dengan menggunakan botol minuman yang berada di kantong sakunya.
“Saya melihat di kantong salah seorang yang bawa motor di depan saya itu ada botol minuman keras. Saya ambil lalu saya pukul kepala orang itu, kita semua jatuh dari motor. Saya langsung kabur sampai menemukan rumah penduduk dan minta tolong, sampai di rumah itu saya tidak sadar lagi. Ketika tersadar ternyata saya sudah ada di rumah sakit,” ungkapnya.

Baca Juga  Jika Yesus Tuhan, Kenapa Tidak Disembah Para Nabi ?

Paska penculikan pertama, hidup Nurul berjalan normal, namun geraknya dibatasi oleh orang tua angkatnya yang muslim agar keselamatannya terjaga. Ia pun bisa lulus SMA dengan baik, meski dalam situasi yang mencekam.
Setamat SMA, Nurul mendapat bantuan pendidikan dari takmir yang dulu mengislamkannya. Ia mengikuti UMPTN dan diterima di Universitas Negeri Padang (UNP).

DINODAI KARENA TAK MAU KEMBALI KRISTEN

Petaka kembali datang, saat Nurul menyiapkan berkas-berkas untuk kuliah di Padang, tiba-tiba ia menerima SMS ancaman. “Sampai di manapun kamu pergi, kami akan tetap mencari. Saya akan robek-robek kamu dan apa yang ada dalam diri kamu.”
Setelah menunjukkan SMS kepada orang tua angkat muslimnya, ia mengabaikan sms itu. Ia pun berangkat Padang menggunakan bis umum. Saat menunggu bis, dua pria yang menghampirinya, mengaku mahasiswa di UNP. Tanpa curiga, ia pun bertukar nomor telepon.

Di lain waktu, saat pulang dari warnet, ia bertemu lagi dengan dua orang mengaku mahasiswa yang berkenalan di terminal bus. Tak dinyana, saat itu pula penculikan untuk yang kedua kalinya dengan perlakuan lebih sadis dan biadab.

“Waktu ngantar berkas-berkas ke kampus, saya mampir ke warnet agak lama, saya melihat dua orang pemuda yang ketemu di terminal bis itu dari jauh. Dia sempat panggil saya tetapi saya tidak pedulikan,” ujarnya.
Kondisi di komplek tempat tinggalnya memang agak sepi kalau habis maghrib. Nurul pulang jalan kaki, tapi terus diikuti kedua pemuda itu. Karena ketakutan, ia pun berlari tapi dikejar oleh kedua pemuda itu dan tertangkap dan dipukul hingga pingsan.

“Tiba-tiba seperti ada pukulan keras di pundak, saya langsung tidak sadar. Ketika sadar saya sudah berada di dalam mobil, saya lihat ada empat orang berperawakan besar dan dua orang pemuda tadi. Saya sempat ambil HP tetapi ketahuan, mereka pukul saya berkali-kali sampai saya tidak sadarkan diri,” ungkapnya.

Ternyata motif para penculik itu memaksanya dengan berbagai cara keji agar kembali kepada agamanya yang lama. Hal ini baru diketahui ketika ia siuman dari pingsan. Ia baru sadar sekarang dirinya berada di dalam sebuah kamar penginapan dengan kondisi tubuh terikat.

“Saya kemudian baru sadar ketika sudah berada di dalam sebuah kamar, ruangannya cukup bagus seperti motel karena ada dua kasur dan ber-AC. Saya diikat, ada empat orang laki-laki berperawakan cukup besar. Dari cara bicaranya saya kira dia orang Batak semua. Saya disekap selama tiga hari, mereka intinya menginginkan saya pulang dan kembali ke agama Kristen. Saya sempat mendengar mereka telepon dengan bahasa Batak. Dia bilang di telepon, “Anaknya sudah ada di sini, paksa untuk masuk Kristen lagi, kalau tidak mau bunuh saja,” paparnya.

Tak cukup sampai di situ, perlakuan keji dan tak berperikemanusiaan dialami gadis remaja yang baru setahun menjadi muallaf itu. Karena berusaha mempertahankan iman dan islamnya, ia dipukuli, dipaksa memakan babi dan dicekoki minuman keras.

“Saya disekap dan dipukuli. Dalam kondisi mabuk mereka menyodorkan daging babi ke mulut saya dan memaksa saya memakannya, tapi saya tetap bertahan. Begitu juga air anggur dipaksa dimasukkan ke mulut saya. Dengan kondisi tangan terikat, saya tendang salah satu dari mereka sampai jatuh, mereka membalas dengan memukul dada saya, sampai akhirnya saya muntah-muntah. Alhamdulillah keluar semua makanan haram tadi saya muntahkan,” paparnya.

Biadabnya, gadis muallaf ini dinodai secara bergiliran oleh keempat penculik berhati iblis tersebut hingga pingsan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..!!

“Waktu mereka mabuk, mereka menggilir saya…” ujarnya terbata-bata sambil menangis.
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya pasrah kepada Allah. Terserah mereka lakukan apapun pada saya, saya yakin waktu itu bahwa Allah tetap ada untuk saya. Karena saya pikir saya sudah tanamkan dalam diri saya, agama Islam agama yang benar,” kisahnya sambil menahan tangis.

Alhamdulillah, ia ditakdirkan Allah untuk tetap hidup. Ia baru sadar keesokan harinya, ternyata ia berada di sebuah gubuk, di belakang Universitas Jambi.

DEPRESI BERAT

Paska penculikan keji itu, Nurul kembali ke orang tua angkatnya di Bengkalis. Ia mengalami depresi berat, selalu mengurung diri di kamar, makan harus disuapi, mandi pun harus dimandikan, benar-benar seperti mayat hidup. Bahkan ia sempat dibawa ke psikiater karena dianggap terkena gangguan jiwa.

Salah satu guru SMA menasihatinya, bahwa apa yang Allah ujikan itu untuk membuat imannya semakin kuat. Kesucian itu letaknya bukan di situ, tapi di mata Allah. Insya Allah, di mata Allah saya tetap sebagai gadis suci, di mata Allah saya itu suci. Teman-teman Muslim di sekitarnya begitu peduli dan senantiasa memotivasi untuk bangkit dan menjalani hidup.
“Mereka terus menyemangati saya, dari situlah saya mulai bangkit,” ujarnya.

Setelah kondisinya mulai membaik, orang tua angkatnya bersama tokoh Muslim sekitar yang peduli menghijrahkan Nurul ke pulau Jawa. Selain untuk melanjutkan kuliah, tujuan lainnya adalah menghindari hal-hal buruk.

Baca Juga  Kabar Gembira, Kapolda Bali Masuk Islam (Muallaf)

Ia pun hijrah ke Jawa untuk menimba ilmu di pondok pesantren khusus akhwat (muslimah). Sambil belajar agama, ia kuliah D-1 di Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK), sambil mengajar di TK.

Setahun kemudian ia melanjutkan kuliah ke fakultas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kota yang sama.
Masa kuliah itupun tidak berjalan mulus karena kendala finansial. Dengan kondisi kekurangan, ia harus tertatih-tatih menjalani kuliah. Orang tua angkatnya mensupport bantuan pendidikan setiap bulan Rp 300 ribu, padahal biaya kontrakan saja 400 ribu. Untuk menutupi kekurangan, ia mulai berusaha mandiri mencari nafkah dengan berdagang, jualan makanan dan mengajar TK. Dari mengajar TK ia dapat tambahan pemasukan Rp 250 ribu untuk menutupi biaya harian.

Tapi untuk biaya kuliah, ia masih bergantung kepada bantuan orang tua angkatnya. Karena orang tua angkatnya tidak bisa menanggung penuh biaya kuliah, maka Nurul sempat memutuskan berhenti kuliah, karena biayanya terlalu besar. Tapi teman-temannya terus memotivasi agar ia terus berjuang menyelesaikan kuliah. Maka ia bertekad menyelesaikan kuliah.

Untuk menutupi biaya kuliah yang makin menggunung, ia terpaksa meminta-minta dan berhutang kepada teman-teman maupun ibu-ibu pengajian yang dikenalnya di majelis taklim.

“Saya kuliah di fakultas dengan yang ditentukan oleh orang tua angkat saya. Waktu kuliah itu biayanya besar, saya kirimkan laporan ke orang tua angkat saya misalnya waktu itu ada biaya kuliah sebesar 5 juta, tetapi yang dikirim hanya 1,5 juta. Akhirnya saya kadang minta ke ibu-ibu yang pernah saya ketemu di pengajian untuk menutupi biaya kuliah. Saya pinjam ke teman-teman untuk menutupi biaya kuliah dan tugas-tugas. Puncaknya itu ketika saya nyusun skripsi, PPL, KKN yang butuh biaya besar. Sampai hutang kuliah itu mencapai sekitar 31 juta ke beberapa orang,” terangnya.

MUSIBAH DATANG LAGI BEBAN MAKIN BERAT

Di tengah usahanya untuk tetap kuliah yang tertatih itu, musibah pun datang lagi. Tengah malam Nurul jatuh di kamar mandi hingga tak sadarkan diri. Kepalanya terbentur ke lantai. Teman satu kontrakannya segera melarikan ke Rumah Sakit Islam, lalu dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap hari itu juga.

“Dari hasil CT-Scan ternyata ada penyempitan dan pembengkakan di otak kecil di belakang kepala,” ujarnya.
Akhirnya ia berobat lagi Rumah Sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf. Dokter pun menyarankan untuk dirawat inap. Dengan uang seadanya melalui bantuan salah seorang teman, ia dirawat di rumah sakit.

Walhasil, total biaya pengobatan dan perawatan itu sekitar 7 Juta lebih, belum termasuk beli obat. Setelah diopname ia masih harus rawat jalan selama beberapa bulan.

Untuk menutupi biaya ini dia dibantu teman satu kontrakannya, kembali melakukan jurus “berhutang” kepada teman dan kenalan yang ada. Padahal hutang yang lama untuk biaya kuliah belum terbayar.
“Hutang pun bertambah menjadi sekitar 37 jutaan,” tuturnya sembari menyerahkan bukti-bukti kwitansi biaya berobat.

BERLEPAS DIRI DARI BOS SYI’AH

Singkat cerita, Nurul Hidayati bisa lulus kuliah dengan peringkat sangat memuaskan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,49.
Usai kuliah, ia sempat bekerja menjadi asisten pribadi salah seorang wanita karier yang memiliki tiga perusahaan. Dari gajinya, ia bisa untuk mencicil hutang, hingga sisa hutangnya mencapai 30 jutaan. Namun tak lama ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena bosnya adalah seorang Syi’ah yang aktif. Ia tidak mau akidahnya diintervensi oleh orang-orang Syi’ah.

kisah muallaf masuk islam

“Saya sempat bekerja juga di Cibubur kepada seorang ibu pimpinan tiga perusahaan, saya jadi asisten pribadi beliau. Gajinya lumayan, bisa mencicil hutang saya. Tapi belakangan ternyata ibu itu seorang Syiah, tiap shalat dia bawa batu untuk sujud. Akhirnya saya memutuskan keluar,” ungkapnya.

Tanpa penghasilan tetap, ia terus mencari para donatur yang bersedia membantu melunasi hutang-hutangnya. Memang ada beberapa kalangan yang mau membantunya, tapi dengan berbagai syarat yang sulit ia penuhi.
Bersama salah seorang temannya, Nurul kini mencoba bertahan hidup dengan menjual pakaian, makanan, madu, herbal dan sebagainya. Ia berjualan di kalangan pengajian dan arisan ibu-ibu. Namun hasilnya tak seberapa, sekedar bisa untuk memenuhi kebutuhan menyambung hidup pas-pasan.

“Sekarang kondisi saya apa adanya, hanya bisa dagang semampunya untuk menyambung hidup. Sementara hutang saya masih cukup besar, sekitar 30 juta, dari mulai untuk menutupi biaya kuliah sampai berobat,” ujarnya.
Nurul ingin hidup normal seperti muslimah lainnya. Ia tidak mau sedih di malam hari dan terhina di siang hari karena terjerat hutang.

“Berhati-hatilah dalam berhutang, sesungguhnya berhutang itu suatu kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari” (HR. Baihaqi)
Ia juga tidak mau jiwanya terus menggantung terganjal oleh hutangnya.

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung kepada hutangnya hingga dia melunasinya” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Nurul sudah sangat malu dan bosan hidup meminta-minta dan terhina dikejar-kejar hutang. Obsesinya saat ini hanya satu, bantuan untuk melunasi hutangnya agar bisa hidup normal, berkarya, berdakwah dan merajut masa depan sesuai dengan disiplin ilmu dan keahlian yang dimilikinya. (Alquin/BaitulMaqdis.com)

Kisah ini nyata diambil dari InfaqDakwahCenter.com.

Artikel Terkait