SEJARAH POHON NATAL DAN SINTERKLAS

SEKILAS TENTANG POHON NATAL

Di dalam perayaan natal sudah menjadi tradisi yang wajib bagi orang-orang nashrooni/kristen untuk memajangkan Pohon Natal yang telah dihiasi dirumah-rumah mereka. Dalam bab Polemik Natal pada artikel ini juga telah menceritakan asal mula natal dan pohon natal, Ternyata setelah ditelusuri tradisi pohon natal adalah merupakan ajaran yang di adopsi dari ajaran paganisme pada masa raja namrud, gambar dibawah adalah ilustrasi persamaan antara raja namrud yang memegang sebuah pohon dan sinterklas yang memegang sebuah pohon juga. hal ini juga telah dijelaskan oleh Ustadzah Irena Handono dalam bukunya “Perayaan Natal 25 Desember Antara Dogma dan Toleransi”. Penerbit: Bima Rhodeta (cet.ke-VI Feb 2004). Dibuku itu tertulis :

“ melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud). H.W. Armstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, California USA, 1994, menjelaskan:

Namrud cucu Ham, anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya: “Dia membangkang atau Murtad antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.

Namun usia Namrud tidak sepanjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpaan pohon “Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mat’s.

Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-asul pohon Natal.

Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai “anak suci dari surga”.

SEKILAS TENTANG SINTERKLAS

Adalah seorang tokoh yang melekat dengan budaya tradisi perayaan natal diseluruh penjuru dunia, namun perlu juga kita mengetahui kebenaran sosoknya dan cerita hidupnya, apakah ia sosok yang nyata ataukah sosok yang fiktif seperti hal nya dongeng-dongeng? Marilah kita simak sebagai berikut,

Baca Juga  Beredar Proposal Sahur Bersama Di Gereja Gresik. Pembodohan atau Pemurtadan?

Sinterklas (dalam bahasa lain juga dikenal dengan nama Santa Klaus, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa) adalah tokoh dalam berbagai budaya yang menceritakan tentang seorang yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari Natal.

Santa berasal dari tokoh dalam cerita rakyat di Eropa yang berasal dari tokoh Nikolas dari Myra, adalah orang Yunani kelahiran Asia Minor pada abad ketiga masehi di kota Patara (Lycia et Pamphylia), kota pelabuhan di Laut Mediterania, dan tinggal di Myra, Lycia (sekarang bagian dari Demre, Turki). Ia adalah anak tunggal dari keluarga Kristen yang berkecukupan bernama Epiphanius (Ἐπιφάνιος) dan Johanna (Ἰωάννα) atau Theophanes (Θεοφάνης) dan Nonna (Νόννα) menurut versi lain. Nikolas adalah seorang uskup yang memberikan hadiah kepada orang-orang miskin.

Tokoh Santa kemudian menjadi bagian penting dari tradisi Natal di dunia barat dan juga di Amerika Latin, Jepang dan bagian lain di Asia Timur. Di Tiongkok juga ada Sinterklas yang lebih lazim dipanggil sebagai Dun Che Lao Ren, yang berarti Kakek Natal, dan hari Sinterklas ternyata dirayakan di seluruh dunia setiap tanggal 6 Desember.

SIKAP VATIKAN TERHADAP SINTERKLAS

Walaupun Sinterklas merupakan gambaran dari seorang uskup gereja Katolik, Paus tidak yakin akan kebenarannya karena pada kenyataannya lebih banyak dongeng atau khayalan yang dibuat mengenai Sinterklas, bahkan juga tercampur dengan berbagai kepercayaan dan budaya. Pada 1970 Vatikan menghapus dan mencoret nama Sinterklas dari daftar orang-orang suci, tetapi karena banyaknya protes yang berdatangan, akhirnya Vatikan memberikan kelonggaran dan kebebasan untuk memilih apakah Sinterklas termasuk orang suci atau bukan diserahkan kepada diri masing-masing, tetapi secara resmi Sinterklas bukan termasuk orang yang dianggap suci lagi.

Baca Juga  Toleransi Keblabasan Ibu-ibu Berjilbab Sambut Uskup Katolik Dengan Iringan Qasidah

Paus Paulus VI memerintahkan agar sisa mayat dari Sinterklas dipindahkan saja dari Italia ke Amerika. Dengan demikian diharapkan orang Eropa akan bisa lebih cepat melupakan Sinterklas. Tepatnya pada 5 Desember 1972 sisa dari mayat Sinterklas sudah dipindahkan ke gereja Saint Nicolhas – Flushing – di New York.

KESIMPULAN

Tidak diragukan lagi bahwa pembaca muslim ketika mengikuti pemaparan historis yang menarik ini telah berhasil menyimpulkan kesimpulan sampingan, yang pada kenyataannya lebih berbahaya daripada apa yang dimaksudkan oleh penulis buku dalam menetapkan kebatilan ini, yaitu sebuah hakikat bahwa keyakinan trinitas sendiri tidak berbeda sama sekali dengan hari natal, ia merupakan paham berhalaisme yang disamarkan olah kaum pagan pada abad 4 dan 5 M dengan nama yang memiliki hubungan dengan agama Nasrani.

Mari Raih Pahala dan Kebaikan !

Dengan membagikan tautan ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki